• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kondisi tenggelam nya sebuah kapal di Sungai Mahakam.(Foto: Dok. Polres Kukar)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Setelah Kecelakaan air (laka air) terjadi di perairan Sungai Mahakam, tepatnya di alur Ulak Besar, Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis (12/2/2026) lalu sekitar pukul 16.00 Wita.

Satpolairud Polres Kukar melakukan tindakan sebagai langkah awal agar kejadian seperti ini tak terulang kembali, pihaknya lakukan imbauan ke Pelabuhan Samarinda.

Kanit Gakkum Polairud Polres Kukar, Rio Hedi Wiyatno, akan berkoordinasi dengan pihak Pelabuhan Samarinda untuk memperketat pengawasan sebelum kapal berlayar, khususnya terkait batas kapasitas muatan dan jumlah penumpang.

"Kami mengimbau agar kapal sebelum berlayar benar-benar diperhatikan kembali muatannya, jangan sampai melebihi batas kapasitas yang sudah ditentukan," tegas Rio pada Kutairaya.com, Jumat (13/2//2026).

Kronologinya, tedapat sebuah kapal penumpang rute Samarinda Long Bagun, KM Taksi Dahliya F3, dilaporkan tenggelam saat dalam perjalanan dari Samarinda menuju Long Bagun.

Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Samarinda sekitar pukul 07.00 Wita dengan membawa muatan sembako, termasuk sekitar 15 ton beras, enam unit sepeda motor, serta puluhan penumpang.

"Untuk saat ini para penumpang korban tenggelam masih berada di Muara Kaman. Mereka menunggu hasil mediasi sambil mendata barang-barang yang hilang untuk diajukan kepada pemilik kapal sebagai penggantian kerugian," ujarnya.

Ia menyampaikan, sebagian barang yang berhasil diselamatkan sudah kembali ke arah Samarinda, sementara sebagian lainnya dititipkan pada kapal yang melanjutkan perjalanan ke hulu.

Terkait penyebab insiden, dugaan sementara mengarah pada kelebihan muatan serta kondisi arus Sungai Mahakam yang cukup deras saat kejadian.

"Dugaannya sementara karena kelebihan muatan dan juga arus yang lumayan kencang, sehingga mengganggu stabilitas kapal. Kapal miring lalu langsung tenggelam," jelasnya.

Berdasarkan keterangan nahkoda, kapasitas normal kapal tersebut sekitar 30 ton. Namun saat kejadian, muatan diperkirakan mencapai lebih dari 30 ton, bahkan mendekati 40 ton.

Data manifes mencatat jumlah penumpang sebanyak 42 orang. Namun fakta di lapangan menunjukkan total orang di atas kapal mencapai 52 orang, terdiri dari 10 awak kapal (termasuk nahkoda) dan 42 penumpang. Artinya terdapat kelebihan sekitar 10 orang dari data awal.

Nahkoda kapal, Hendra (40), warga Muara Bedangaq, Kecamatan Melak, Kutai Barat, sebelumnya menyebutkan, sebelumnya, saat berlayar kapal ini masih dalam kondisi normal.

Namun saat melintasi arus deras di Ulak Besar sekitar pukul 16.00 Wita, kapal diduga mengalami pergeseran titik berat akibat beban berlebih.

Sementara Wahyudi (46), yang mengemudikan kapal saat kejadian, mengungkapkan kapal sempat berputar tidak terkendali setelah terdampak arus kuat sebelum akhirnya tenggelam.

Beruntung, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Rio juga mengingatkan masyarakat, khususnya pelaku usaha kapal, agar lebih mengutamakan keselamatan dalam pengangkutan barang dan penumpang.

"Ini menyangkut nyawa. Untung saja kejadian ini tidak memakan korban jiwa. Ke depan, muatan jangan sampai melebihi kapasitas kapal. Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama," tukasnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top