• Sabtu, 06 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Oleh : Widha Riduan (Pimred KutaiRaya.com)


Lagi, gas Elpiji 3 kg kembali langka diberbagai daerah di Kukar.

Sebagai salah satu barang yang menjadi kebutuhan pokok di masyarakat baik untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga maupun pedagang, kelangkaan tabung gas yang sampai saat ini masih di subsidi pemerintah telah membuat masyarakat panik.

Bagaimana tidak, sebagai salah satu sarana untuk memasak memenuhi kebutuhan pokok makanan keluarga dari kalangan atas sampai bawah sungguh sangat dibutuhkan.

Pertanyaannya, mengapa hal ini terus terjadi dan bahkan terus berulang?

Seperti diberitakan KutaiRaya sebelumnya, Gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram (kg) kembali langka terutama di Tenggarong dalam beberapa hari terakhir. Hal ini menimbulkan keresahan di tengah warga karena kebutuhan pokok seperti memasak untuk keluarga hingga menjalankan usaha kecil menjadi terhambat.

Situasi tersebut memaksa sebagian warga harus berkeliling untuk mencari tabung gas karena stok di agen maupun pangkalan lokal sudah tidak habis. Kondisi ini bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga memberikan tekanan psikologis bagi masyarakat, khususnya mereka yang sangat bergantung pada elpiji 3 kg sebagai sumber energi utama.

Dari OPD terkait yakni Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara melalui Plt Kadis Sayid Fathullah mengatakan, untuk mengatasi kelangkaan LPG 3 kg di tengah masyarakat, maka pemerintah daerah telah bekerja sama dengan Pertamina, untuk menggelar operasi pasar LPG 3 kg yang dilaksanakan di seluruh kecamatan sebanyak 24 lokasi mulai 7-24 Februari 2026.

Ia memastikan, pelaksanaan operasi pasar LPG 3 kg ini bagian dari respons cepat pemerintah daerah, dalam menyikapi kelangkaan LPG 3 kg di tengah masyarakat.

Tentunya, kelangkaan gas elpiji 3 kg bersubsidi terutama di Tenggarong membawa dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang berada dalam kategori ekonomi menengah ke bawah. Bagi banyak keluarga, gas elpiji 3 kg merupakan sumber energi utama untuk keperluan memasak. Ketika gas ini langka, masyarakat harus mengantri di pangkalan atau agen resmi untuk mendapatkan pasokan, bahkan sering kali harus membeli dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET).

Kemudian dampak lainnya yakni terganggunya kegiatan UMKM yang bergerak di bidang kuliner dan industri rumahan. Banyak pelaku usaha kecil yang mengandalkan gas elpiji 3 kg untuk menjalankan usaha mereka. Ketika gas langka dan harganya melonjak, ini tentu saja menambah beban biaya operasional mereka, bahkan ada yang memilih menutup usahanya sementara.

Maka, untuk mengatasi masalah kelangkaan gas elpiji 3 kg ini, pemerintah dan pihak terkait perlu melakukan langkah-langkah. Seperti, penyesuaian kuota elpiji bersubsidi harus dilakukan dengan lebih cermat, berdasarkan pada analisis kebutuhan riil masyarakat. Selanjutnya, pengawasan distribusi juga menjadi faktor penting dalam mengatasi kelangkaan. Pemerintah perlu memperketat dalam memantau jalur distribusi gas, terutama di tingkat pengecer dan agen.

Selain itu, penting untuk dilakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan energi yang efisien dan bijak. Pemerintah dan lembaga terkait bisa memberikan pelatihan atau sosialisasi mengenai penggunaan energi yang lebih hemat dan berkelanjutan. Dan terakhir menggelar operasi pasar.

Kelangkaan gas elpiji 3 kg bersubsidi merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait, karena dampaknya sangat terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM. Dengan kebijakan yang tepat, diharapkan kelangkaan gas elpiji 3 kg dapat segera teratasi dan kebutuhan masyarakat akan energi dapat terpenuhi dengan lebih baik. (Widha Riduan)



Pasang Iklan
Top