
Pemasangan Tower Sementara di Desa Loa Duri Seberang.(Foto: Dok. Pemdes LDS)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Upaya penguatan jaringan telekomunikasi di wilayah Desa Loa Duri Seberang, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih menghadapi hambatan.
Pembangunan tower jaringan oleh Telkom melalui anak perusahaannya, Mitra Tel, hingga kini belum dapat diaktifkan akibat persoalan sengketa lahan.
Kepala Desa Loa Duri Ulu, Muhammad Arsyad menjelaskan, pembangunan tower tersebut telah dimulai sejak Oktober 2025 dan secara fisik hampir rampung.
Namun, proses aktivasi terhenti karena muncul klaim lahan dari pihak perusahaan PT BBE, padahal berdasarkan dokumen awal, lahan tersebut diketahui merupakan milik masyarakat.
“Pembangunan towernya sebenarnya sudah hampir selesai, tinggal beberapa persen untuk pemasangan instalasi agar bisa aktif. Tapi sekarang terkendala masalah lahan, sehingga tidak bisa dilanjutkan,” ujar Arsyad, Sabtu (31/1/2026).
Ia menyebutkan, persoalan bermula dari klaim sepihak perusahaan terhadap lahan yang sebelumnya telah melalui proses tukar guling dengan warga, lengkap dengan surat pernyataan sejak tahun 2007.
Klaim tersebut membuat area tower disegel, sehingga pembangunan tidak bisa diteruskan.
“Dari awal, Mitra Tel sudah berkomunikasi dengan pihak perusahaan dan tidak ada masalah. Pemerintah desa juga memberikan rekomendasi karena mengetahui lahan itu milik warga. Tapi di tengah jalan tiba-tiba diklaim perusahaan,” ujarnya.
Arsyad mengemukakan, pemerintah desa telah berupaya melakukan mediasi antara masyarakat dan pihak perusahaan.
Namun hingga kini, perusahaan dinilai belum menunjukkan iktikad baik untuk hadir dan berdiskusi.
“Kami sudah beberapa kali menghubungi, baik lewat telepon maupun surat resmi, tapi tidak ada respons. Padahal kami hanya ingin solusi yang baik,” tuturnya.
Ia menambahkan, pihak desa juga telah menyurati Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur untuk membantu memfasilitasi pemanggilan perusahaan.
Jika tidak ada titik temu, maka pemerintah desa berencana mengusulkan mediasi melalui DPRD.
Jadi untuk sementara waktu, penguatan jaringan dilakukan dengan pemasangan tower sementara guna mengatasi persoalan blankspot di wilayah tersebut.
Arsyad menegaskan kebutuhan jaringan internet di Loa Duri Seberang sangat mendesak, mengingat jumlah penduduk mencapai sekitar 1.800 jiwa dari 4 RT.
“Jaringan di seberang memang sudah lama bermasalah. Dengan adanya jaringan ini, pelayanan pemerintahan dan komunikasi masyarakat tentu akan jauh lebih maksimal,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Pj Kepala Desa Loa Duri Seberang, Sumiati.
Ia mengatakan, saat ini telah berdiri Combat Mobile BTS atau tower sementara Telkomsel di Desa Persiapan Loa Duri Seberang.
“Tower sementara ini sudah dilengkapi jaringan 4G LTE hingga 5G. Infrastruktur ini dirancang untuk mengatasi kekurangan jaringan internet di daerah blankspot dan terpencil,” kata Sumiati.
Meskipun bersifat sementara, Combat BTS dinilai memiliki fungsi yang sangat penting karena mampu menjangkau wilayah sulit sinyal dan dapat dipindahkan dengan mudah.
Kehadiran tower tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat sambil menunggu tower permanen dapat dioperasikan.
“Dengan adanya tower sementara ini, kami berharap kesulitan jaringan yang selama ini dirasakan masyarakat bisa teratasi dan memberikan manfaat nyata bagi warga,” ucapnya. (Dri)