
Kualitas air bersih di rumah warga menurun.(Foto: Achmad Rizki/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar), khususnya Kecamatan Tenggarong, mengeluhkan kualitas air bersih yang menurun.
Pasalnya, air yang didistribusikan ke seluruh pelanggan mengalami perubahan warna dan sedikit berbau.
Hal ini diduga karena sumber air baku yang didistribusikan berasal dari Sungai Mahakam dan kondisi air Sungai Mahakan sedang berubah warna atau bangar.
Salah seorang warga, Muhammad Roni mengatakan, kondisi air di rumah mengalami perubahan warna sejak 3 hari lalu.
Semenjak air ini mengalami perubahan kualitas, air itu hanya digunakan untuk bekerja dan mencuci.
"Kalau untuk kebutuhan air minum, kami membeli air kemasan. Karena air PDAM itu tak berani untuk dikonsumsi, kecuali air itu sudah jernih dan tak berbau," kata Roni kepada Kutairaya, Rabu (28/1/2026).
Ia mengaku, air kemasan satu kardus yang dibeli ini hanya bertahan untuk 2 hari.
Harga air kemasan satu kardus mencapai Rp 65 ribu.
Sehingga jika ini tak ditangani serius oleh Perumda Tirta Mahakam, maka ini bisa membebani pelanggan dalam membeli air kemasan untuk konsumsi.
"Seharusnya Perumda Tirta Mahakam bisa memaksimalkan sistem penyaringan, sehingga air ini bisa dikonsumsi oleh masyarakat," tuturnya.
Menanggapi hal ini, Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno menjelaskan, air yang didistribusikan itu dipastikan layak konsumsi.
Air itu tak mengalami perubahan warna, tapi itu faktor karena tak ada hujan sekitar 2 pekan terakhir.
"Kalau wilayah kita tak ada hujan, maka permukaan sungai berubah. Terlebih air bersih kita ini bersumber menggunakan air Sungai Mahakam," kata Suparno.
"Tapi kualitas air tak mengalami perubahan dan layak konsumsi," ucapnya. (Ary)