
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, Rabu (28/1/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), meluruskan informasi yang beredar ditengah masyarakat terkait dugaan adanya ratusan kasus HIV di Kabupaten Kutai Timur. Berdasarkan data resmi yang tercatat dalam sistem pelaporan kesehatan pemerintah, jumlah kasus HIV di wilayah tersebut hingga saat ini hanya delapan orang.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin menegaskan bahwa, informasi yang ramai beredar khususnya di media sosial, tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Klarifikasi ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah daerah, untuk mencegah kesalahpahaman publik yang berpotensi menimbulkan keresahan dan stigma di masyarakat.
“Data yang beredar itu tidak benar. Setelah kami cek langsung melalui sistem pelaporan resmi, jumlah kasus HIV di Kutai Timur hanya delapan orang, tidak sampai ratusan seperti yang diberitakan,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Meski demikian, ia mengakui bahwa, persoalan HIV dan AIDS secara umum masih menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim). Berdasarkan data sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 1.018 kasus HIV positif di seluruh wilayah Kaltim, dengan sebaran tertinggi berada di Kota Samarinda, Balikpapan, dan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Ia menjelaskan, tingginya angka kasus di wilayah tertentu erat kaitannya dengan mobilitas penduduk, aktivitas ekonomi serta faktor perilaku berisiko. Salah satu pola penularan yang dominan di Kaltim, ditemukan pada kelompok berisiko, termasuk komunitas Laki-laki Suka Laki-laki (LSL).
“Karena itu, strategi utama kami saat ini adalah melakukan skrining dan deteksi dini secara aktif di komunitas berisiko, dan wilayah rawan penularan, termasuk di kawasan lokalisasi. Tujuannya agar kasus bisa ditemukan lebih cepat dan segera ditangani,” jelasnya.
Kadinkes Kaltim tersebut juga menegaskan, HIV bukanlah akhir dari segalanya. Penderita HIV yang menjalani pengobatan secara rutin dengan terapi Antiretroviral (ARV), dapat menekan jumlah virus dalam tubuh hingga tidak terdeteksi.
Dengan kondisi itu, penderita tetap dapat hidup sehat, produktif, dan menjalani aktivitas seperti masyarakat pada umumnya.
“Yang berbahaya itu justru jika tidak terdeteksi dan tidak diobati. Tanpa pengobatan yang konsisten, HIV bisa berkembang menjadi AIDS dan memicu berbagai komplikasi penyakit serius,” tegasnya.
Terkait upaya pencegahan jangka panjang, ia mengatakan, jika pengembangan vaksin HIV hingga saat ini masih terus berlangsung di tingkat global. Tentu ia berharap, dalam dua tahun ke depan, vaksin HIV dapat tersedia dan menjadi bagian dari strategi pengendalian HIV secara menyeluruh.
“Kami berharap ke depan ada terobosan besar, termasuk vaksin, sehingga upaya pengendalian HIV bisa lebih efektif. Namun yang paling penting saat ini adalah edukasi, deteksi dini, dan pengobatan yang berkelanjutan,” tandasnya. (*Abi)