• Selasa, 21 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pelaksana Tugas (Plt), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, Senin (26/01/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Dari beragam banyak teknologi pengolahan limbah sampah, yang menyambangi Pemerintah Kota Samarinda, teknologi Insinerator menjadi pilihan Pemerintah Kota Samarinda, untuk menangani persoalan limbah di Kota Samarinda.

Pelaksana Tugas (Plt), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso memaparkan, perkembangan terbaru pembangunan dan kesiapan operasional insinerator pengolahan sampah di sejumlah titik di Kota Samarinda.

Suwarso menjelaskan, progres pembangunan fisik gedung insinerator beserta bangunan pendukungnya telah rampung sepenuhnya.

“Untuk bangunan gedung insinerator saat ini sudah 100 persen selesai. Yang masih berproses itu tinggal perakitan mesin di dua lokasi, yakni di Handil Bakti dan Simpang Pasir,” ujar Suwarso.

Ia merincikan, dari total sepuluh unit insinerator yang direncanakan, sebanyak delapan unit telah selesai dirakit dan siap menuju tahap uji coba. Sementara dua unit lainnya masih dalam tahap perakitan akhir.

Selain pembangunan gedung dan mesin, DLH bersama perangkat daerah terkait juga membahas kesiapan infrastruktur pendukung, khususnya akses jalan menuju lokasi insinerator, penerangan jalan umum (LPJU), serta ketersediaan sambungan air.

“Akses jalan dari jalan utama ke lokasi insinerator itu bervariasi, ada yang sekitar 35 meter sampai 315 meter, tersebar di sembilan titik. Ini penting karena kendaraan pengangkut sampah memiliki muatan berat, sehingga kondisi jalan harus benar-benar layak,” jelasnya.

Untuk perbaikan dan pengerasan akses jalan, Suwarso menyebutkan telah dikoordinasikan dengan Dinas PUPR dan masuk dalam anggaran tahun berjalan.

“Tujuh titik akses jalan akan ditangani, di antaranya di Handil Bakti, Simpang Pasir, Bakah, Jalan Wangi, Tani Aman, Bukit Pinang, dan Lempake. Dari PUPR disampaikan, pengerjaan diupayakan mulai minggu depan, dengan catatan cuaca mendukung,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk LPJU sebagai penunjang aktivitas malam hari, DLH telah mengalokasikan anggaran sebesar kurang lebih Rp181 juta untuk pengadaan 21 tiang lampu di empat lokasi yang masih membutuhkan penerangan tambahan.

“Empat lokasi itu di Bakah, Simpang Pasir, Tani Aman, dan Handil Bakti. Lima lokasi lainnya sudah aman dari sisi penerangan,” katanya.

Terkait kebutuhan air, ia menyebutkan bahwa, hampir seluruh sambungan air telah selesai, dan hanya tersisa satu lokasi yang masih dalam proses penyelesaian. Air tersebut dibutuhkan dalam proses hidro dan pengolahan uap pada sistem insinerator.

Mengenai kesiapan sumber daya manusia, ia mengatakan, rekrutmen operator pada prinsipnya telah terpenuhi, meski tetap harus melalui tahapan seleksi sesuai prosedur.

“Di beberapa titik seperti Air Hitam, Loa Bahu, Bukit Pinang, dan Lempake, kepala kerja, operator, dan petugas keamanan sudah terpenuhi. Lokasi lainnya masih berproses sambil menunggu perakitan dan uji coba mesin selesai,” jelasnya.

Ia menambahkan, meski secara teknis mesin dapat diuji coba, operasional penuh tetap menunggu kesiapan infrastruktur pendukung, terutama akses jalan dan LPJU.

“Ini untuk menghindari risiko kecelakaan saat pengangkutan sampah. Jadi tidak bisa dipaksakan sebelum semua benar-benar siap,” tegasnya.

Terkait aspek keselamatan kerja, Suwarso mengakui, saat ini ketersediaan alat pelindung diri (APD), masih terbatas. Namun hal tersebut telah menjadi perhatian pimpinan daerah.

“Pak Wali juga sudah menyampaikan bahwa idealnya pekerja menggunakan pakaian khusus yang tahan suhu panas. Ini akan kami usulkan secara bertahap, karena perlindungan pekerja adalah hal yang sangat penting,” tandasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top