
Perpustakaan Daerah Kukar.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Keberadaan perpustakaan desa di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya pemanfaatan hingga stigma negatif di tengah masyarakat.
Padahal, fasilitas tersebut telah disiapkan sebagai pusat pembelajaran dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat desa.
Staf Bidang Pembinaan Perpustakaan Kukar, Deni Setiawan mengemukakan, persoalan utama bukan terletak pada minimnya minat baca, melainkan pada pola pengelolaan dan persepsi masyarakat terhadap fungsi perpustakaan desa.
“Selama ini ada anggapan masyarakat desa tidak mau membaca. Faktanya bukan begitu. Banyak desa justru antusias, tetapi bingung dalam mengelola perpustakaan karena kurang pendampingan dan bahan bacaan,” ujar Deni, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, sebagian perpustakaan desa yang telah dibangun masih belum optimal pemanfaatannya karena keterbatasan koleksi, sarana pendukung, serta sumber daya pengelola.
Akibatnya, perpustakaan hanya menjadi bangunan fisik tanpa aktivitas yang berkelanjutan.
“Kami sering menemukan perpustakaan sudah ada, tetapi tidak aktif. Bukan karena tidak dibutuhkan, melainkan belum dikelola dengan baik,” katanya.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan anggaran daerah.
Pada tahun 2025, misalnya pembangunan perpustakaan desa hanya mampu direalisasikan di 6 desa, jauh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan yang diajukan.
Sebelumnya, ada sekitar 20 usulan desa yang harus ditunda akibat penyesuaian anggaran.
“Kami harus menyesuaikan kemampuan anggaran. Padahal, masih banyak desa yang membutuhkan perpustakaan representatif,” ucap Deni.
Selain itu, stigma bahwa perpustakaan hanya sebatas tempat membaca buku cetak juga menjadi hambatan.
Di era digital, sebagian masyarakat menganggap perpustakaan tidak lagi relevan.
“Padahal membaca tidak hanya dari buku. Membaca melalui internet, gawai, dan media digital juga bagian dari literasi. Ini yang perlu diubah pola pikirnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, menilai rendahnya pemanfaatan perpustakaan desa juga dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya belajar sepanjang hayat.
“Perpustakaan sering dipandang sebelah mata. Seolah-olah belajar hanya di sekolah. Padahal, perpustakaan desa adalah sumber ilmu yang bisa diakses siapa saja,” ucap Sarmin. (Dri)