• Selasa, 03 Februari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Penampilan Komunitas Serapo di Taman Musik Kota Raja.(Foto: Achmad Nizar/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Komunitas Serapo hadir sebagai ruang berkumpul dan berkarya bagi anak-anak muda Kutai yang peduli terhadap seni.

Serapo dibentuk sejak tahun 2024 dan mulai aktif menjalankan program pada 2025. Meski terbilang baru, nama Serapo sendiri sebenarnya sudah lama dikenal.

Seniman Serapo, Muhammad Razie Abdurrahman menerangkan, sebelumnya terdapat komunitas yang sama bernama Serapo LPKK, yang berisi para seniman-seniman legenda Kutai. Kini, Serapo hadir dengan entitas baru, wajah baru dan semangat baru.

"Serapo itu bahasa Kutai, artinya siapa saja bisa memakai dan menjadi bagian di dalamnya," ujar Rizie pada Kutairaya.com saat peresmian Taman Musik Kota Raja, Selasa (30/12/2025).

Ia menjelaskan, Serapo saat ini diisi oleh generasi muda yang ingin melanjutkan dan mengembangkan kesenian Kutai.

Komunitas Serapo tidak hanya bergerak di satu bidang seni. Mereka menaungi berbagai kesenian, mulai dari musik, tari, seni rupa, sastra, film, teater, hingga seni tradisi Kutai.

Salah satu seni tradisi yang dilestarikan oleh Serapo adalah Tingkilan, musik khas Kutai yang dimainkan menggunakan gambus Kutai dan babon atau ketipung.

"Tingkilan dulunya digunakan sebagai sarana dakwah, komunikasi antarkelompok, sekaligus media untuk mengekspresikan keresahan dan perasaan melalui musik, " ucapnya.

Dalam peresmian Taman Musik Kota Raja, Komunitas Serapo dipercaya tampil sebagai pengisi acara pertama. Penampilan ini menjadi momen bagi para anggota.

"Ada rasa bangga tersendiri, karena kami ikut meresmikan taman musik ini. Rasanya seperti, wah, ini kami yang membuka," imbuhnya.

Keberadaan Taman Musik Kota Raja diharapkan dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh seniman di Kutai Kartanegara.

Saat ini, Komunitas Serapo memiliki sekitar 40 anggota, yang terbagi ke dalam beberapa divisi. Meski belum mendapatkan dukungan langsung dari pemerintah, Serapo berencana untuk mulai menjalin komunikasi dan menjemput bola pada tahun depan.

"Kami berharap pemerintah bisa membaca dan memahami apa yang disampaikan para seniman, supaya ekosistem seni di Kukar bisa tumbuh dengan nyaman dan berkelanjutan," tutupnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top