• Selasa, 20 Januari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Cofferal yang berada di Jalan Ahmad Muksin Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.(Achmad Rizki/Kutairaya)


TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Suasana tenang dengan pemandangan tertuju kepada Jembatan Repo-Repo dan Pulau Kumala akan segera kita nikmati manakala berada di sebuah kafe Cofferal yang berlokasi di Jalan Ahmad Muksin, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Kafe dengan konsep mewah yang nyaman sebagai wadah ngopi dan bersantai dengan keluarga, menarik pengunjung yang datang dari berbagai kalangan, baik menengah atas, tengah hingga bawah.

Hal ini membuktikan kafe Cofferal tak hanya menyajikan berbagai menu hidangan yang lezat dengan harga terjangkau, namun juga menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata.

Dalam sehari, kafe ini didatangi 100-200 orang pengunjung dari berbagai daerah.

Adapun menu terlaris di kafe ini, yakni nasi goreng, singkong goreng.

Selain itu, adapula menu lainnya yang tak kalah menggoda selera, seperti ayam goreng, mangut ikan nila, sup iga dan lainnya.

Kafe ini juga menyediakan berbagai fasilitas, di antaranya meeting room dengan minimum order Rp 2 juta, mini meeting room, hingga ruangan terbuka dan di atas keramba.

"Kafe ini menjadi daya tarik sendiri, terlebih memiliki fasilitas yang nyaman dan indah," kata Manager Operasional Cofferal, Estuning Dyah Lestari kepada Kutairaya, Rabu (3/12/2025).

Kafe ini tak hanya menjual makanan dan minuman, tapi juga menghadirkan pengalaman menikmati alam dari jarak dekat.

Setiap sore pengunjung datang silih berganti untuk menikmati sensasi paduan aroma kopi dan semilir angin yang membawa kesejukan air sungai.

Pengunjung yang datang kerap terpesona dengan desain bangunan kafe yang unik.

Tak sedikit dari mereka yang memilih duduk di area dek luar yang dibangun menjorok ke sungai.

Dari tempat itu, suara gemericik air terdengar lebih jelas, seolah menjadi latar musik alami yang menemani perbincangan ringan.

Suasana ini sering kali dimanfaatkan oleh pengunjung, dengan mengabadikan momen serta membagikannya ke sejumlah akun media sosial mereka.

Saat matahari mulai tenggelam, nuansa kafe berubah menjadi lebih romantis.

Cahaya jingga yang memantul di permukaan air sungai menciptakan panorama yang kerap membuat pengunjung betah berlama-lama.

Senja menjadi waktu paling dinantikan, bahkan beberapa pengunjung sengaja datang tepat sebelum matahari tenggelam untuk mendapatkan spot terbaik.

Bagi warga setempat, kehadiran kafe pinggir sungai ini membawa dampak positif.

Selain menjadi ruang berkumpul baru, keberadaan kafe juga mendorong ekonomi lokal.

Beberapa produk lokal disajikan sebagai menu terbaik di kafe ini.

Kini, kafe sederhana di pinggir sungai itu telah menjelma menjadi salah satu tujuan favorit warga.

Bukan karena kemewahan yang ditawarkan, melainkan karena kehangatan dan kedekatannya dengan alam.

Dalam derasnya arus kehidupan modern, tempat seperti ini menjadi oase yang menawarkan jeda sejenak bagi siapapun yang merindukan ketenangan. (ary)



Pasang Iklan
Top