• Rabu, 13 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pembina Seni Tutur Lisan di SMPN 1 Tenggarong, Alma Sohril Toha Mahmuda. (Foto: Achmad Nizar/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Seni Bedandeng, atau yang dikenal juga sebagai Dandeng, merupakan salah satu warisan budaya lisan suku Kutai yang kini sudah langka.

Di tengah kekhawatiran akan punahnya seni tutur ini, upaya pelestarian terus digenjot kepada salah satunya pembina Seni Tutur Lisan di SMPN 1 Tenggarong, Alma Sohril Toha Mahmuda.

Dandeng adalah seni bertutur berbentuk syair berirama khas. Setiap baitnya memuat curahan hati, pengalaman nyata, serta pengamatan penuturnya terhadap kehidupan.

Tidak seperti puisi modern yang bersifat mengarang. Dandeng sepenuhnya faktual dan kontekstual. Inilah yang menjadikannya bukan hanya seni hiburan, tetapi juga media edukasi moral dan sosial bagi masyarakat Kutai sejak dahulu.

"Dandeng itu sebenarnya curhat. Kalau Tarsul lebih kepada hikayat atau cerita, sedangkan Dandeng menyampaikan isi hati penuturnya secara jujur dengan irama yang khas," ujar Alma pada Kutairaya.com di SMPN 1 Tenggarong, Rabu (3/12/2025).

Menurutnya, Dandeng termasuk seni yang sangat terikat aturan, layaknya puisi lama. Ia memiliki pola rima tertentu, jumlah baris yang sudah baku, dan penggunaan bahasa Kutai sebagai bahasa utama.

"Dandeng ini rumusnya a-a-a-a. Jadi syairnya harus patuh pada pola tersebut. Kelihatannya sederhana, tapi pas dicoba anak-anak, mereka bilang sulit juga," sebutnya.

Meski banyak menghadapi tantangan, ia tetap optimis. Ia sudah memperkenalkan Dandeng ke berbagai sekolah, seperti SMP IT Nurul Ilmi, bahkan menyelipkannya dalam materi ketika diminta menjadi narasumber kearifan lokal.

"Pada saat itu, saya sempat menjadi narasumber untuk menjelaskan terkait Seni tutur yang ada di Kutai, nah dari sekitar 15 sekolah yang ikut pelatihan, baru tiga siswa yang mulai mampu berdandeng dengan baik, " katanya.

Kesulitan terbesar dalam pelestarian Dandeng justru berasal dari minimnya sumber Dandeng. ia mengaku, hingga saat ini hanya menemukan satu narasumber yang bisa ia menukar ilmu terkait Dandeng, ia adalah Syaiful Anwar, tokoh yang memahami tarsul dan beberapa aturan seni tutur Kutai. Dari sumber terbatas itu, ia mulai menulis dan membukukan aturan-aturan Dandeng dan Tarsul agar dapat dipelajari guru dan siswa.

"Sumber dari orang tua-tua yang benar-benar paham itu sangat sedikit. Bahkan di luar Kutai, referensinya hampir tidak ada. Karena langkanya itu, saya berinisiatif menulis buku sendiri yang saya dapat sumbernya dari beliau (Syaiful Anwar)," tuturnya.

Upaya dirinya mendapat respons positif dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar. Saat menampilkan Dandeng dalam pekan budaya, dinas memberikan ruang khusus untuk sosialisasi. Mereka mengapresiasi adanya sekolah yang serius melestarikan seni tutur langka ini.

"Seni Dandeng ini juga sudah masuk pada Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, dan patutnya saya sangat bangga, untuk itu saya terus berupaya dan menyebarkan Dandeng ini agar kedepannya tak punah, " paparnya.

Dirinya juga mengatakan, sudah beberapa kali membawakan Seni Dandeng ini ke masyarakat melalui panggung-panggung, seperti di Titik Nol, Simpang Odah Etam, yang dibawakan oleh anak-anak SMPN 1 Tenggarong

"Jadi harapan saya kepada generasi muda seperti di Sekolah-sekolah, karena mereka lah yang bisa membuat Seni ini terus naik untuk kedepannya, " imbuhnya.

Ia berharap, kedepannya seni tutur Kutai termasuk Dandeng dan Tarsul dapat masuk lebih dalam di pelajaran muatan lokal. Menurutnya, guru muatan lokal perlu diberikan pelatihan khusus agar dapat mengajarkan sastra lisan Kutai dengan benar.

"Bahasa Kutai itu bukan hanya membuat kalimat. Sastra lisannya juga harus berkembang. Harapan saya, dinas terkait ikut mendorong guru-guru agar warisan ini tidak hilang," pungkasnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top