• Selasa, 20 Januari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Foto bersama kontingen Kukar cabor Taekwondo di POPDA Kaltim PPU.(Dok:TI Kukar)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Penampilan Taekwondo Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kalimantan Timur 2025 yang berlangsung hingga 20 November di Penajam Paser Utara (PPU) berakhir manis. Dari 10 atlet yang diturunkan, 8 di antaranya sukses membawa pulang medali.

Sekretaris Umum Taekwondo Kukar, Siti Mahmudah mengatakan, untuk ajang POPDA Kaltim, Taekwondo Kukar telah mendapatkan kuota 10 orang dari Dispora Kukar.

"Karena keterbatasan anggaran, kuota yang dikasih Dispora cuma 10 orang. Itu sudah termasuk atlet dan pelatih. Kalau ada yang mau ikut dengan biaya mandiri diperbolehkan, jadi kami turunkan 10 atlet dan ada 4 pelatih biaya mandiri," ujar Siti Mahmudah pada Kutairaya.com saat dihubungi.

Dengan skuad terbatas ini, Taekwondo Kukar berhasil tampil luar biasa. Total 3 emas, 2 perak, dan 3 perunggu berhasil diraihnya.

"Kalau untuk hasil, saya rasa sudah maksimal dan bersyukur. Dari 10 pemain bisa dapat 3 emas. Sebenarnya luar biasa, apalagi kita cuma mengisi 10 kelas dari total 22 kelas yang dipertandingkan," lanjutnya.

Ia juga menjelaskan, dibanding dengan kontingen lain seperti Samarinda, Balikpapan, dan tuan rumah PPU yang menurunkan tim penuh. Ia mengaku bangga terhadap perjuangan atlet-atlet Kukar. Meski ada beberapa target yang belum tercapai, hal tersebut dianggap wajar mengingat sistem pertandingan yang menggunakan sistem gugur.

"Namanya bela diri kan sistem gugur. Kadang kita tidak tahu ketemunya sama siapa dulu. Sekali kalah, ya selesai. Tapi saya tetap bersyukur. Ini hasil kerja keras atlet, pelatih dan seluruh tim," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia juga mengaku, untuk pendanaan menjadi tantangan perkembangan Taekwondo Kukar saat ini. Selain itu, penentuan atlet dalam kelas-kelas tertentu juga menjadi hal yang sulit, karena ada beberapa atlet yang memiliki kelas berat badan hampir sama namun dapat diandalkan keduanya.

"Kendalanya lebih ke teknis menyusun tim. Beberapa berat badan atlet mirip, tapi kita andalkan dua-duanya. Jadi perlu banyak diskusi dan rapat. Menentukan siapa yang dibawa juga jadi tantangan tersendiri," jelasnya.

Setelah POPDA ini, Taekwondo Kukar mulai menatap dan lanjut melakukan program pembinaan. Ia mengatakan, beberapa atlet tak lagi bisa ikut POPDA berikutnya karena usia tidak memenuhi syarat.

"Kedepannya kita fokus pembinaan dari usia dini. Klub-klub di Kukar sekarang sudah banyak dan punya pelatih bersertifikat. Jadi pembinaannya akan berjalan terus, dan klub klub tersebut dapat mengikuti turnamen-turnamen seperti open tournament. Jadi itu sangat penting buat pengalaman bertanding, nantinya kalau ada seleksi yang membawa nama daerah, kita punya banyak cadangan atlet terbaik," pungkasnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top