
Plt. Kepala Disketapang Kukar Ananias.(Andri wahyudi/kutairaya)
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berinisiatif menyalurkan pangan berlebih dari hotel, restoran dan dapur umum kepada masyarakat yang membutuhkan.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mendukung ketahanan pangan dan mengurangi pemborosan makanan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias menjelaskan, langkah ini sejalan dengan salah satu program dedikasi Bupati Kukar yang berfokus pada peningkatan efisiensi dan keberlanjutan pangan di daerah.
"Kami sudah melakukan penjajakan dengan sejumlah hotel dan rumah makan, seperti Grand Elty, Grand Fatma, Tepian Pandan, Ayam Banjar, Bebakaran, serta dapur SPPG di beberapa lokasi. Mereka menyatakan siap mendukung program ini," ujarnya, Selasa (11/11/2025).
Menurut Ananias, mekanisme distribusi pangan berlebih akan melibatkan relawan yang sudah dilatih dan difasilitasi oleh Dinas Ketahanan Pangan.
Pihaknya juga akan menyediakan wadah dan kontainer khusus agar proses pengumpulan dan pengiriman makanan menjadi lebih efisien.
"Relawan harus tahu batas waktu konsumsi makanan. Misalnya, pangan dari menu sarapan maksimal dikonsumsi hingga pukul 15.00. Setelah itu tidak boleh dibagikan lagi karena sudah tidak layak konsumsi," tuturnya.
Ia menegaskan, aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama.
Komunikasi antara donatur dalam hal ini pihak hotel, restoran, dapur umum dan relawan harus berjalan dengan baik agar makanan yang diterima masyarakat tetap aman dan layak dikonsumsi.
Selain membantu masyarakat, program ini juga diharapkan dapat menekan tingkat pemborosan pangan di Kukar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 16 persen pangan di Indonesia terbuang sia-sia, sebagian besar berasal dari makanan berlebih yang tidak termanfaatkan.
"Kita ingin menekan angka pemborosan itu. Karena percuma jika produksi pangan kita tinggi tapi pemborosannya juga besar. Dengan memanfaatkan pangan berlebih ini, ketahanan pangan dan swasembada di Kukar bisa lebih kuat," tutur Ananias.
Ia mengakui pada awalnya sejumlah pihak hotel dan restoran sempat ragu untuk berpartisipasi karena khawatir dengan risiko jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada penerima makanan.
Namun, setelah mendapat penjelasan mengenai sistem dan tanggung jawab bersama, sebagian besar pihak akhirnya menyatakan dukungan mereka.
"Setelah kami jelaskan mekanismenya, mereka bisa memahami. Ini bukan soal bisnis, tapi kepedulian. Kita semua berupaya mendukung Zero Hunger atau tidak ada kelaparan di Kukar," tuturnya. (dri)