
Diskusi dan pemutaran film "Palm Oil In The Land Of Orangutans" hasil dari kolaborasi IPOSS dan KBRI Hopenheigen pada Jumat (18/10/2025) lalu. (Foto:Dok.infoSAWIT)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Industri kelapa sawit Indonesia kembali menunjukkan dua sisi positifnya, baik di tingkat global maupun nasional. Dari Kalimantan Timur hingga Jakarta, kabar baik datang hampir bersamaan dengan kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) di Kaltim, hingga komitmen Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dalam memperkuat diplomasi ekonomi hijau melalui film dokumenter tentang sawit berkelanjutan.
Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu industri sawit nasional. Berdasarkan hasil tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Kalimantan Timur untuk periode I–Oktober 2025 (1–15 Oktober 2025), harga sawit mengalami kenaikan sebesar Rp 67,22 per kilogram. Dengan demikian, harga untuk sawit berumur lebih dari 10 tahun kini mencapai Rp 3.369,13/kg.
Data dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan, harga TBS sawit umur 3 tahun ditetapkan Rp 2.965,44/kg, umur 4 tahun Rp 3.160,20/kg, umur 5 tahun Rp 3.181,31/kg, umur 6 tahun Rp 3.216,07/kg, umur 7 tahun Rp 3.235,87/kg, umur 8 tahun Rp 3.259,88/kg, umur 9 tahun Rp 3.330,17/kg, dan umur lebih dari 10 tahun Rp 3.369,13/kg. Sementara itu, harga minyak sawit mentah (CPO) berada di level Rp 14.336,38/kg, dan harga Kernel atau inti sawit Rp 12.937,69/kg, dengan indeks K sebesar 89,06%.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Provinsi Kalimantan Timur, Andi M. Siddik menyebutkan, bahwa harga TBS turut memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani sawit.
"Ini tentu sangat memberikan angin segar bagi para petani sawit di Kaltim. Tidak hanya meningkatkan pendapatan, tapi juga turut memberikan efek domino berupa hubungan kemitraan antar petani dan perusahaan yang semakin kuat," ucap Plt Kadisbun Kaltim tersebut.
Untuk itu, dirinya berharap, agar para petani atau kelompok tani dan pabrik sawit dapat terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan menjunjung tinggi kesesuaian dan ketentuan yang berlaku.
"Kita berharap agar kemitraan antar petani dan perusahaan terus berkolaborasi dengan baik, demi kesejahteraan petani," harapnya.
Tidak hanya Kaltim, kabar gembira juga datang dari nasional. Kementerian Luar Negeri RI menegaskan, diplomasi ekonomi hijau lewat pendekatan budaya dan komunikasi publik menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian melalui pemutaran film dokumenter berjudul “Palm Oil in the Land of Orangutans” di Hollywood XXI, Jakarta, pada Jumat (18/10/2025) kemarin.
Acara ini merupakan kolaborasi antara Indonesian Palm Oil Sustainability Support (IPOSS) dan KBRI Kopenhagen dengan dukungan penuh dari Kemlu RI, serta dihadiri berbagai pemangku kepentingan, termasuk InfoSAWIT.
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Heru Hartanto Subolo, menegaskan bahwa minyak sawit memiliki makna strategis lebih dari sekadar komoditas ekspor.
"Minyak sawit adalah salah satu ekspor penting Indonesia yang memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional, sekaligus menjadi bagian dari strategi diplomasi untuk memperluas akses pasar global bagi produk Indonesia," ujar Heru.
Ia menjelaskan, film dokumenter ini menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan sisi lain industri sawit Indonesia yang berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Film tersebut juga menjadi bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia Denmark, sekaligus memperkuat kemitraan kedua negara di bidang perdagangan, transisi energi hijau, lingkungan, dan pertanian.
Heru menambahkan, bahwa Indonesia dan Denmark sebelumnya telah menandatangani Action Plan untuk kerja sama strategis di berbagai sektor, termasuk pengembangan energi hijau.
"Melalui film ini, kami berharap publik internasional bisa melihat bagaimana Indonesia terus berupaya menghadirkan praktik kelapa sawit berkelanjutan yang sejalan dengan agenda global mitigasi perubahan iklim," pesannya.
Ia berharap, pemutaran film “Palm Oil in the Land of Orangutans” dapat memperluas wawasan penonton dan membangun pemahaman yang lebih seimbang tentang kontribusi positif minyak sawit Indonesia bagi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.
"Semoga film ini menjadi jembatan untuk memperkuat diplomasi sawit Indonesia, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan beriringan," pungkas Heru. (*Abi)