• Selasa, 20 Januari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Saidah penjual lemang sejak puluhan tahun silam. Meja kayu dengan penerangan obor tradisional,Rabu (24/09/2025).(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Samarinda punya sudut-sudut kota dengan ciri khas-nya. Salah satunya, makanan trasadisional lemang yang turut mewarnai perkembangan Kota Samarinda.

Lemang, makanan khas yang diproses didalam bambu. Dipanggang dengan api tradisional bara tempurung kelapa, memberikan cita rasa khas gurih bagi para lidah-lidah pelintas Jalan Pulau Sebatik.

Berada di pinggiran jalan depan Kantor BNI, setiap malam masih bertahan ditengah arus lalu lintas padatnya kota.

Saidah (57), salah satu penjual lemang yang sejak anaknya duduk dibangku sekolah dasar (SD) menjajakan lemang, mengatakan, jika pembeli memang tidak stabil. Terkadang dirinya mendapati jualannya terjual banyak, terkadang tidak. Meskipun demikian, tidak ada keluh kesah darinya atas apa yang ia dapat.

“Ya kadang banyak yang beli, bisa sampai 400 ribu atau lebih, tapi juga kadang cuman 100 atau 200 aja dapatnya,” ucap Sulastri.

Untuk perpotongnya, lemang dihargai Rp 2.500 rupiah/biji. Untuk harga per bambunya, Saidah menjual dengan harga Rp 40.000/bambu, serta telur asin Rp 5.000/butir.

“Kalau untuk belanja bahannya itu, kelapa parut saya beli per biji (Rp15.000) sama ketan 1 Kg (Rp 18.000),” ungkapnya.

Saidah memulai jajakannya sejak pukul 16.00 wita sore hingga habis. Jika sepi, Saidah harus berjaga hingga jam 11 malam.

“Kalau habis saya pulang cepat, kalau tidak sampai jam 11 malam nanti,” sambungnya.

Namun, asa mencari rezeki harus tertunda, jika hujan datang membasahi Samarinda. Dirinya mengungkapkan, terpaksa harus menutup rombong kecilnya. Tanpa payung, dirinya lebih memilih tutup sementara.

“Kalau ada payung saya pakai payung, tapi kalau tidak ada, saya harus tutup dan pulang,” imbuhnya.

Meskipun terlihat hidangan sederhana, resep mudah diwariskan secara turun temurun, untuk menjaga warisan makanan tradisional di Samarinda. Bahkan, alih-alih menggunakan penerangan lampu senter, dirinya lebih memilih menggunaan obor dari botol kaca dan minyak tanah.

“Ini ciri khas dari lemang, jadi ya saya tetap pakai obor saja, biar orang lebih mudah megenalinya,” ucapnya sambil membungkus lemang pesanan warga.

Rezeki memang tiada yang tahu, jika sepi hingga jam 11 malam, dirinya secara sukarela membagikan lemang yang tak terbeli ke masyarakat.

“Ya saya bagikan saja kalau tidak habis, karena tidak bisa dijual untuk besok lagi,” ujar Saidah.

Dirinya lebih memilih menghidangkan hidangan baru, ketimbang menghidangkan stok lama. Baginya, meski sederhana, kualitas tetaplah pilihan utama.

Ibu Saidah menunjukkan kegigihan dan ketekunan dalam mempertahankan makanan tradisional yang ada di Samarinda. Tak tergerus waktu, meski seringkali mendapati jualan tidak laku, dirinya tetap membuka tirai etalase kecil dan menyalakan obor sebagai pengingat Samarinda tempo dulu. (*Abi)



Pasang Iklan
Top