
Sekretaris Sanggar Mamanda Panji Berseri Mahendra.(Foto:Achmad Nizar/KutaiRaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Ditengah eksisnya seni budaya modern, kini terdapat salah satu sanggar seni tradisional di Kukar yang bertahan dan sulit ditemukan yaitu sanggar Mamanda Panji Berseri. Mamanda Panji Berseri tetap bertahan menjaga dan melestarikan kesenian teater yang mulai langka di Kukar. Sanggar ini sudah berdiri sejak tahun 1993 dan disahkan pada 2004.
Mamanda Panji Berseri berasal dari Kelurahan Panji, Tenggarong. Nama Mamanda diambil dari jenis seni pertunjukan teater rakyat khas Kalimantan, sementara Panji merupakan nama Kampung Panji yang sekarang dikenal sebagai Kelurahan Panji, dan Berseri menggambarkan semangat dan keindahan kampung tersebut.
Sekretaris Sanggar Mamanda Panji Berseri Mahendra mengatakan, Mamanda Panji Berseri awalnya bernama Sandiwara, namun berjalannya waktu, kini dirubah menjadi bentuk seni mamanda.
"Dulu itu sebenarnya sandiwara rakyat, tapi kita ubah jadi Mamanda, isinya tetap cerita rakyat tapi dikemas dalam bentuk drama. Mamanda ini beda dengan seni teater modern yang menggunakan naskah ataupun skrip, mamanda harus bisa mengarang dan mencari kosa katanya sendiri sesuai dengan perannya," ungkap Mahendra pada Kutairaya.com di Sekretariat Mamanda Panji Berseri di Jalan Lai, Kelurahan Panji, Senin (15/9/2025).
Kesenian Mamanda Panji Berseri tidak hanya menampilkan drama, tetapi juga menjadi wadah berbagai seni tradisional lainnya seperti Jepen, Belian hingga Beladon. Seni beladon merupakan bagian pembuka dalam pertunjukan Mamanda.
"Bisa dibilang, Mamanda ini adalah induk dari banyak kesenian, semua bisa kita masukkan dalam satu pertunjukan, tergantung cerita yang kita bawakan," tambahnya.
Latihan rutin diadakan setiap malam minggu di RT 16, Kelurahan Panji, Tenggarong. Sayangnya, ia mengaku kendala yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan anggota.
"Saat ini anggota kami hanya sekitar 30 orang, itupun kebanyakan dari kalangan usia tua, anak muda yang benar-benar minat hanya beberapa saja," katanya.
Meski sempat tampil diberbagai acara seperti Erau dan pertunjukan lainnya, tahun ini Mamanda Panji Berseri belum memiliki agenda tampil akibat terbatasnya anggota.
"Zaman dulu Mamanda bisa tampil tiga jam penuh, skarang 30 menit saja sudah terasa berat, karena keterbatasan anggota," imbuhnya.
Untuk itu, Mamanda Panji Berseri terus membuka pintu bagi siapa pun yang ingin belajar, termasuk anak-anak SD.
"Yang penting ada jiwa semangat seninya, tidak ada batasan usia atau syarat khusus. Kita bimbing pelan-pelan," lanjutnya
Dari segi dukungan, pemerintah daerah sebenarnya sudah memberikan perhatian, walau masih terbatas pada momen-momen tertentu. Mamanda Panji Berseri kini mulai memanfaatkan media sosial untuk berbagi dokumentasi pertunjukan seperti seni beladon. Harapannya semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda yang tertarik dan ikut melestarikan kesenian ini.
"Kalau bisa, jangan sampai Mamanda ini punah, sekarang pelakunya sudah banyak yang tua, jadi yang muda ingin menyalurkan ilmu, tapi kalau tak ada yang menerima, akan hilang begitu saja," tutupnya. (*zar/adv)