• Sabtu, 07 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Ilustrasi beras yang dijual pedagang.(Siti Khairunnisa/Kutairaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Isu dugaan beras oplosan yang viral di media sosial mulai berdampak pada pedagang beras di Samarinda. Meski belum ditemukan secara langsung di kota ini, kekhawatiran konsumen mulai muncul, terutama setelah Polda Kaltim mengungkap kasus beras bermerek premium yang ternyata oplosan di Balikpapan.

Salah satu pedagang beras di Pasar Segiri, Adam, mengaku penjualan beras menurun dalam sepekan terakhir dan menyebut ada pelanggan yang bahkan membatalkan pembelian setelah melihat kabar soal beras oplosan di media sosial.

"Biasanya ambil Sania karena ada beredar isu yang begini, kan. Enggak tahu juga kita, ya. Jadi beralih, saya kasih ambil aja merek yang lain, Bu. Itu aja saya antisipasi," kata Adam saat diwawancarai, Selasa (29/7/2025).

Menurutnya, meski ia tidak pernah mencampur atau mengoplos beras yang dijual, stigma dari berita yang beredar membuat pembeli ragu. Salah satu pelanggan bahkan menolak membeli beras Sania meski sudah dijelaskan bahwa produk tersebut asli.

"Saya enggak pernah ngoplos, tapi dibilang katanya karena ada apa-apa ini kan, jadi kita takut-takut juga. Kemarin ada langganan di sini bilang, ‘Kenapa enggak ambil Sania, Bu?’ Dia bilang, ‘Ini oplosan." Saya jawab, "Oh, enggak Bu, ini asli.’ Tapi dia tetap enggak mau, langsung alih ke merek lain," ceritanya.

Adam menjual delapan merek beras, di antaranya Dua Jempol, Berlian, Sania, Kura-Kura, Tiga Mangga, Mawar, Melati, dan Padi Ketupat. Namun sejak isu oplosan mencuat, merek Sania penjualannya jadi mandek.

"Yang lain alhamdulillah lancar aja karena enggak ada di isunya. Tapi kalau kena isu juga, pasti semua terdampak. Kalau saya buka semua merek saya kena, pasti enggak laku," tambahnya.

Sementara itu, pedagang lain bernama Burhan juga membenarkan bahwa dirinya mendengar informasi soal dugaan beras oplosan dari media dan pesan WhatsApp. Menurutnya, sempat ada pemeriksaan dari dinas, namun belum menyasar soal kualitas.

"Ada pengecekan, tapi bukan masalah oplosan. Masalah HET, harga eceran tertinggi. Harus sesuai harga dari pemerintah, enggak boleh di atas, enggak boleh di bawah," kata Burhan.

Ia juga menyampaikan bahwa selama berjualan, dirinya belum pernah menemukan kejanggalan pada beras yang ia terima maupun jual kepada konsumen.

"Bau, warna, atau teksturnya, saya tidak pernah sih. Tidak pernah mengalami," ujarnya.

Burhan berharap pemerintah dapat menindaklanjuti isu ini dengan kerja sama yang baik bersama pedagang. Baginya, transparansi sangat penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.

"Terus terang aja, tidak boleh berbohong. Misalnya beras premium ya premium, jangan bilang premium tapi isinya medium," tuturnya.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda, Nurrahmani, menyebut hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi terkait keberadaan beras oplosan di wilayah Samarinda.

"Alhamdulillah sampai hari ini tim kami itu tidak pernah mendengar tentang beras oplosan. Karena tim kami itu juga ada dolok di situ. Jadi informasinya pasti akan berkembang," ujar Nurrahmani saat dikonfirmasi.

Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah kota akan segera merapatkan barisan dan berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

"Kemungkinan besar itu pasti akan diulas di rapat inflasi oleh tim besar. Setiap minggu kami ada rapat, jadi pasti akan dibahas," tegasnya.

Ia juga menyatakan bahwa dalam waktu dekat, kemungkinan besar akan dilakukan sidak ke lapangan oleh tim gabungan.

"Kemungkinan besar bukan kami saja, tapi tim inflasi akan turun ke lapangan untuk sidak," pungkasnya. (skn)



Pasang Iklan
Top