
Para pelaku seni yang tergabung dalam Yayasan Lanjong saat pertemuan.(Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Telah lebih dari 2 dekade, Yayasan Lanjong Indonesia menorehkan kiprah panjang dalam penguatan ekosistem seni pertunjukan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Dengan pusat kegiatan di Jalur Gunung Gandek Kelurahan Melayu Tenggarong, Yayasan Lanjong tidak hanya diketahui sebagai kelompok teater, tetapi sudah tumbuh jadi rumah untuk kerja- kerja seni multidisipliner.
Mimi Nuryanti, Direktur Yayasan Lanjong Indonesia menjelaskan, Yayasan Lanjong saat ini dipegang oleh generasi muda. Ketuanya adalah Ahmad Qoshashih, ataupun akrab disapa Kosha, seseorang seniman muda asal Tenggarong berumur 38 tahun. Dia baru saja menuntaskan riset S2 di bidang Manajemen Tata Kelola Seni dari Institut Seni Indonesia( ISI) Yogyakarta.
"Mas Kosha ini, kami harapkan jadi penerus estafet visi Lanjong. Ia anak muda berbakat serta memiliki uraian kokoh terhadap dunia kesenian serta pengelolaan organisasi," tutur Mimi Kamis (17/7/2025).
Dengan semangat lintas generasi serta kerja sama multidisiplin, Lanjong terus menjelma jadi simpul berarti dalam geliat seni budaya di Kalimantan Timur. Tidak cuma jadi tempat berekspresi, namun sebagai wadah tumbuhnya kreativitas yang inklusif serta berkepanjangan.
"Secara orientasi kerja, kami memanglah fokus pada penguatan ekosistem seni pertunjukan. Salah satunya lewat pengelolaan Ladaya, yang kami buka seluas- luasnya buat seniman dari bermacam wilayah sampai mancanegara," ucapnya.
Ladaya ataupun Lanjong Budaya, saat ini jadi ruang kreatif yang aktif memfasilitasi bermacam aktivitas residensi, pertunjukan, sampai studi kesenian. Sebagian program besar yang sempat diselenggarakan di situ antara lain residensi seniman Katia dari Jerman yang disupport oleh Goethe Institut, Festival Indonesia Bertutur yang diprakarsai Melati Suryodarmo, sampai workshop Tingkilan bersama Odah Kaminari.
Tidak hanya seni panggung, tahun ini Lanjong pula melangkah ke dunia film dengan memproduksi film pendek bertajuk Tuhing. “Alhamdulillah film ini lolos kurasi serta pernah diputar di Jogja,” tambah Mimi.
Konsistensi Lanjong pula menemukan pengakuan dari pemerintah pusat. Tahun ini, mereka menerima hibah dari Dana Indonesia yang dikelola Departemen Keuangan RI. Walaupun demikian, Mimi berharap sinergi dengan pemerintah wilayah ke depan dapat terus menjadi diperkuat, terlebih dengan kepemimpinan bupati baru yang dinilai sangat terbuka terhadap pengembangan seni serta budaya.
"Harapan kami kesenian di Kukar khusus teater semakin mendapat tempat di masyarakat. Sehingga kesenian yang sudah ada tidak hilang begitu saja, tanpa ada mempertahankan." tutupnya. (dri)