• Sabtu, 06 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Ilustrasi Nyamuk Anopheles betina menularkan penyakit malaria. (foto:Kletr/Shutterstock).


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Ancaman malaria masih menghantui masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim), terutama para pekerja yang keluar masuk kawasan hutan di wilayah endemis. Meski data menunjukkan penurunan kasus secara signifikan dalam tiga tahun terakhir, tantangan di lapangan masih nyata.

Berdasarkan laporan SISMAL (Sistem Informasi Malaria) periode 1 Januari hingga 10 Juli, tercatat 2.498 kasus malaria pada 2023. Angka ini menurun drastis menjadi 1.096 kasus di 2024 atau turun sekitar 56 persen. Proyeksi untuk 2025 pun menunjukkan tren positif, dengan estimasi hanya 536 kasus atau turun 51 persen dari tahun sebelumnya.

Namun, tren ini belum sepenuhnya menurunkan risiko bagi masyarakat yang tinggal atau bekerja di area dengan tingkat endemisitas tinggi. Beberapa wilayah seperti Paser, Berau, dan Kutai Timur sebelumnya masuk kategori endemis tinggi, dan meski kini bergeser menjadi endemis rendah, potensi penyebaran masih ada, terutama bagi pekerja hutan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mencatat bahwa Penajam Paser Utara (PPU) kini telah bergeser dari endemis sedang ke status yang lebih ringan. Target pada 2025 adalah semua kabupaten di Kaltim berada di level endemis rendah.

"Target kita di 2025, semua wilayah kabupaten sudah bergeser menjadi endemis rendah," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, Selasa (15/07/2025).

Ia menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil dari intervensi masif yang dilakukan selama tiga tahun terakhir, mencakup pencegahan, pengobatan, dan edukasi di lapangan.

"Data terbaru memperlihatkan tren penurunan yang bagus, mendekatkan Kaltim pada target eliminasi malaria di tahun 2027," ucapnya.

Namun demikian, risiko tertinggi justru dihadapi oleh pekerja-pekerja lapangan yang sering keluar masuk hutan seperti buruh tambang rakyat, pekerja kayu, atau petani ladang. Untuk mereka, telah disiapkan paket hutan oleh tenaga kesehatan. Isinya termasuk obat pencegahan, kelambu, dan losion anti nyamuk (repellent) untuk mengurangi risiko tertular malaria.

"Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kami terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya langkah-langkah pencegahan ini," tuturnya. (skn)



Pasang Iklan
Top