• Sabtu, 06 Desember 2025
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin (Foto:Siti/Kutairaya)


SAMARINDA (KutaiRaya.com) Penolakan terhadap vaksin masih terjadi di masyarakat, terutama karena anggapan bahwa vaksin mengandung bahan kimia berbahaya. Banyak orang tua merasa lebih aman menggunakan obat-obatan herbal karena dianggap “alami”, tanpa menyadari bahwa sebenarnya semua hal di dunia ini termasuk air dan tumbuhan terdiri dari senyawa kimia.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menyebut pandangan tersebut sebagai salah kaprah yang bisa membahayakan upaya perlindungan kesehatan, terutama bagi anak-anak.

Ia menjelaskan, banyak orang masih salah mengerti tentang apa itu zat kimia, dan cenderung menganggap segala sesuatu yang mengandung unsur kimia pasti berbahaya.

"Air itu juga zat kimia. Namanya H2O. Tapi kalau kita bilang H2O, orang langsung takut, padahal itu air minum biasa," ujar Jaya, Jumat (11/07/2025).

Salah satu vaksin yang sering disalahpahami adalah vaksin Hexavalent, yaitu vaksin gabungan yang bisa melindungi bayi dari enam penyakit sekaligus: difteri, tetanus, batuk rejan (pertusis), hepatitis B, polio, dan infeksi bakteri Hib (Haemophilus influenzae tipe b).

Jaya menegaskan bahwa semua zat di dalam vaksin sudah diuji keamanan dan manfaatnya, serta dipakai secara luas di seluruh dunia.

Ia menambahkan bahwa kata "herbal" sering kali dianggap lebih aman karena terdengar alami. Padahal, semua tumbuhan juga tersusun dari zat kimia. Yang membedakan hanya cara penggunaannya, apakah sesuai takaran atau tidak.

"Herbal juga zat kimia. Kadang orang menganggap kalau ada label herbal, berarti bebas dari zat kimia. Itu pemahaman yang keliru," jelasnya.

Jaya juga membantah anggapan bahwa vaksin hanya dijadikan sebagai alat bisnis. Menurutnya, vaksin merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit dan sudah terbukti menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.

"Vaksin bukan alat bisnis. Vaksin adalah bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat," tegasnya.

Ia menjelaskan, cara kerja vaksin adalah dengan memperkenalkan tubuh pada bentuk kuman yang sudah dilemahkan. Tujuannya agar sistem imun (pertahanan tubuh) bisa mengenali penyakit lebih dulu dan siap melawannya bila suatu saat terpapar.

"Ketika penyakit datang, tubuh sudah siap karena sel-sel pertahanan kita sudah kenal duluan dengan musuhnya," ujarnya.

Guna memudahkan pemahaman, Jaya memberikan perumpamaan. Ia menyamakan proses vaksinasi dengan perkenalan antarmanusia. Semakin sering bertemu, semakin mudah kita mengenali seseorang. Begitu juga dengan sel imun dalam tubuh kita.

"Baru ketemu sekali, mungkin belum hafal. Tapi kalau sudah sering ketemu, dari jauh pun sudah tahu. Begitu juga dengan sel tubuh kita saat kenal dengan kuman dari vaksin,"pungkasnya. (skn)



Pasang Iklan
Top