
Para warga saat melakukan layanan cek kesehatan gratis.(Foto:Siti/Kutairaya)
SAMARINDA (KutaiRaya.com) Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi pemerintah pusat sebagai "kado ulang tahun" terus berlangsung di Kota Samarinda sejak pertama kali dilaksanakan Februari 2025 lalu.
Meski sudah berjalan sekitar 5 bulan, nyatanya program ini belum sepenuhnya dikenal luas oleh masyarakat. Namun antusiasme perlahan tumbuh berkat sosialisasi dari RT, penyuluhan di posyandu, serta promosi dari pihak puskesmas.
Guna menelusuri pelaksanaan program ini, wartawan KutaiRaya mendatangi sejumlah puskesmas di Kota Samarinda, Senin (07/07/2025). Namun, mayoritas petugas tidak berada di tempat.
Dari penjelasan staf puskesmas, diketahui bahwa para tenaga kesehatan tengah mengikuti kegiatan pelayanan kesehatan massal dalam rangka Hari Kesatuan Gerak PKK yang dipusatkan di kawasan GOR Sempaja.
Menindaklanjuti informasi tersebut, wartawan langsung menuju ke lokasi. Di lapangan, tampak sejumlah stan pemeriksaan dari delapan puskesmas aktif melayani warga.
Layanan yang tersedia antara lain cek tekanan darah, kolesterol, gula darah, hingga konsultasi kesehatan umum. Puskesmas Air Putih dan Temindung menjadi dua di antaranya.
Kepala Puskesmas Air Putih, dr Zheditya, menjelaskan bahwa program CKG berjalan cukup baik dan telah mencapai 14 persen dari target tahun ini dan masyarakat makin antusias seiring semakin mudahnya proses pendaftaran.
"Kami sudah mencapai 14 persen dari target tahun ini. Rata-rata per hari ada sekitar 5 sampai 7 orang yang datang. Tapi semakin ke sini masyarakat semakin tahu, apalagi pendaftaran sekarang lebih dipermudah," jelas dr Zheditya.
Ia menambahkan, proses pendaftaran kini tak lagi harus dilakukan melalui aplikasi Sehat Indonesiaku di HP Android. Warga cukup datang langsung ke puskesmas dan akan dibantu mendaftar oleh tenaga kesehatan di tempat.
Meski secara umum berjalan lancar, kendala tetap ada. Salah satunya soal kestabilan jaringan aplikasi dan keterlambatan penerbitan rapor kesehatan yang dijanjikan terbit dalam waktu 2x24 jam.
Pihaknya juga aktif mempromosikan program ini secara langsung dan melalui media sosial. Kader posyandu dan RT juga dilibatkan agar bisa menjadi contoh bagi warga lain.
"Kami mulai dari internal dulu, mereka kami wajibkan ikut periksa agar bisa jadi contoh buat masyarakat," tambahnya.
Sementara itu, Puskesmas Temindung mencatat tren peningkatan yang stabil. Penanggung Jawab Program CKG, dr Wardah, mengatakan bahwa pelayanan dibuka setiap Senin hingga Kamis, dengan rata-rata lima pasien per hari, terutama dari kelompok usia produktif dan lansia.
Upaya jemput bola juga terus dilakukan, terutama saat posyandu atau kegiatan penyuluhan. Dalam kegiatan tersebut, petugas puskesmas turut menyosialisasikan bahwa pemeriksaan bisa dilakukan tanpa harus menunggu hari ulang tahun.
Sebagian warga yang hadir di GOR Sempaja mengaku baru mengetahui adanya program CKG dari pengurus RT mereka. Informasi tersebut mendorong mereka untuk ikut mencoba layanan ini secara langsung.
"Saya baru tahu dari RT, terus tadi disuruh ke sini, katanya ada pemeriksaan gratis. Alhamdulillah bisa periksa, jadi tahu kondisi kita seperti apa," ujar Maryam (50), warga Jalan Lumba-lumba Samarinda.
Surya Hadi (25), warga Rawasari 1, juga menyampaikan hal serupa. Ia mendapatkan informasi dari grup RT dan memutuskan datang karena merasa sudah lama tidak melakukan pemeriksaan kesehatan.
"Bagus menurut saya, jadi masyarakat lebih sadar soal kesehatan. Harapannya pelayanan terus ditingkatkan," ujar Surya.
Warga muda lainnya, Fitri (25) dari Selili, juga menyampaikan bahwa ia sempat salah paham mengenai ketentuan pemeriksaan yang harus dilakukan pada hari ulang tahun. Setelah mendapat penjelasan, ia pun tertarik untuk ikut memanfaatkan layanan ini.
"Ternyata enggak harus di hari ulang tahun ya. Saya kira cuma di tanggal itu saja," ucap Fitri.
Mewakili Kepala Dinkes Kaltim, dr Ika Gladies, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, menyatakan bahwa keterbatasan informasi di tingkat warga menjadi salah satu tantangan utama dalam menjangkau partisipasi yang lebih luas.
Karena itu, pihaknya gencar melakukan pendekatan jemput bola, khususnya di luar fasilitas kesehatan, seperti event komunitas atau acara semacam ini.
"Sejak launching, pendaftar naik jadi sekitar 6.000 di Samarinda. Total di Kaltim sekitar 45 ribu. Tapi ini masih 1-2 persen dari populasi, artinya masih sangat kurang," ungkap dr.Ika.
Ia menegaskan bahwa pelayanan yang dilakukan di fasilitas kesehatan tetap paling optimal karena lebih lengkap. Namun kegiatan luar ruangan tetap perlu dilakukan untuk mendorong partisipasi warga, khususnya yang tidak punya waktu datang ke puskesmas.
"Untuk anak sekolah, kami punya program tersendiri. Mereka cukup di sekolah, nanti petugas kami yang datang. Sementara puskesmas lebih banyak melayani dewasa muda hingga lansia," pungkasnya. (skn)