
Suasana RT 40 Kelurahan Mugirejo
SAMARINDA (KutaiRaya.com) Warga RT 40 Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, berharap adanya penanganan serius terhadap persoalan banjir yang kerap melanda wilayah mereka setiap kali hujan deras turun.
Lokasi permukiman yang berada di titik rendah membuat kawasan tersebut menjadi langganan genangan, bahkan air bisa mencapai ketinggian hingga 160 sentimeter.
Ketua RT 40 Mugirejo, Sutris, mengungkapkan bahwa banjir di wilayahnya biasanya terjadi akibat hujan yang berlangsung cukup lama. Dalam kondisi terparah, ketinggian air bisa mencapai 150 hingga 160 sentimeter.
"Sekitar 160 yang tertinggi, kemarin sekitar 150-an," ujar Sutris, Kamis (03/06/2025).
Menurut Sutris, banjir yang terjadi memang tidak berlangsung lama, umumnya antara dua hingga empat jam. Namun, genangan itu tetap berdampak pada aktivitas warga, terutama karena lumpur yang tersisa setelah air surut.
"Ya, habis hujan, ada lumpur, dampak dari banjir, pasti warga sini bergotong-rotong untuk membersihkan jalanan yang berlumpur itu," tuturnya.
Tercatat ada sekitar 30 rumah terdampak, dengan jumlah kepala keluarga di lingkungan itu mencapai 33 hingga 35 KK. Saat banjir melanda, warga biasanya mengamankan diri ke tempat lebih tinggi, baik ke rumah bertingkat milik sendiri maupun milik kerabat sekitar.
"Jadi cari tempat yang lebih tinggi, seperti di atas itu. Atau rumah-rumah yang bertingkat ini naik ke tingkatnya aja," tambahnya.
Kondisi itu menjadi perhatian Wali Kota Samarinda, Andi Harun, yang melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Ia menyebut RT 40 Mugirejo merupakan kawasan dengan elevasi terendah, sehingga air dari wilayah hulu terkumpul dan menyebabkan genangan di kawasan ini.
"Ini tadi saya melihat bekas banjir sangat tinggi. Karena separuh dari jendela itu. Dan ini memang secara geografis, secara letak posisi, ini posisi terendah. Sehingga semua air yang berasal dari daerah hulunya itu terbuang ke arah sini," ungkap Andi Harun.
Ia menyebut, untuk mengurangi potensi genangan dalam waktu dekat, pemerintah akan memulai penanganan jangka pendek dengan membangun saluran drainase sepanjang 200 meter yang ditambah lagi 50 meter pada tahun ini.
"Kemungkinan masih ada. Tapi, kita perkirakan, kita estimasi sudah mengalami penurunan. Dan kita berharap setelah selesai pekerjaan di 2026, mudah-mudahan ini daerah sudah bebas dari banjir," jelasnya.
Wali Kota juga menyoroti saluran air dari Gang Bugis yang berada di sekitar rencana pembangunan sekolah tiga bahasa. Ia meminta Dinas PUPR dan SDA berkoordinasi dengan pihak pelaksana pembangunan untuk memastikan adanya sistem pengelolaan air yang baik di kawasan itu.
"Nanti akan kita masukkan pada saat kita memeriksa PBG-nya. Pada saat kita memeriksa izin-izin lingkungannya. Supaya faktor pengelolaan air di daerah tersebut itu dipastikan tersusun dan terencana dengan baik," terangnya.
Sebagai bagian dari penanganan fisik di lapangan, minggu depan Pemkot akan membongkar jembatan penghubung antara Jalan DI Panjaitan dan Mugirejo yang dinilai terlalu rendah dan menjadi penghambat aliran air. Selain itu, pipa PDAM yang melintas di kawasan tersebut juga akan dibenahi.
"PU maupun PDAM, semua dua-duanya berjanji kepada saya, minggu depan sudah dimulai pekerjaan," pungkasnya. (skn)