• Selasa, 20 Januari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur





TENGGARONG (KutaiRaya.com) - Malam Sabtu, 12 April 2025, udara hangat di Kelurahan Maluhu terasa berbeda dari biasanya. Sebuah lapangan terbuka di kawasan tersebut berubah menjadi panggung budaya yang semarak, tempat ratusan warga berkumpul menyaksikan pertunjukan jaranan dan tari kuda kepang.

Namun, malam itu bukan sekadar pagelaran seni ia juga menjadi wadah silaturahmi dan kampanye dari calon Bupati Kutai Kartanegara nomor urut 01, dr Aulia Rahman Basri. Menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Kukar 2024 yang dijadwalkan pada 19 April mendatang, dr Aulia memilih pendekatan yang menyentuh sisi emosional dan kultural masyarakat.

Ia tak berdiri di atas podium seperti lazimnya kandidat, melainkan turun langsung ke tengah warga, membaur di lingkaran para penari, menyatu dalam suasana.

Sorakan dan tepuk tangan meledak saat Aulia menerima selendang merah simbol kehormatan dari para seniman dan ikut menari bersama. Senyumnya merekah, gerakannya mengikuti irama gamelan, menciptakan suasana yang akrab dan membumi.

“Ini bukan sekadar kampanye. Ini adalah bentuk kecintaan kami terhadap budaya yang menjadi identitas masyarakat kita,” ujar Aulia.

Tak hanya ikut menari, Aulia juga duduk bersama warga di bawah tenda, menyimak satu per satu penampilan dari anak-anak muda Maluhu. Ia berbincang dengan tokoh masyarakat, mendengar aspirasi mereka, sambil menunjukkan bahwa kepemimpinan yang ia tawarkan adalah kepemimpinan yang hadir di tengah-tengah rakyat, bukan di balik meja kekuasaan.

Pagelaran ini menjadi gambaran nyata strategi kampanye Aulia yang berfokus pada pendekatan hati ke hati. Ia percaya bahwa pembangunan tak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang merawat kebudayaan sebagai perekat sosial.
Dari atas panggung bertuliskan Kesenian Campuran Blitar “Panji Blambangan”, irama musik tradisional terus mengalun hingga malam larut. Sementara itu, warga terus berdatangan, mengisi setiap sudut lapangan, menyatu dalam kehangatan suasana.

“Kalau pemimpin sudah bisa ikut menari bersama rakyatnya, itu tandanya ia tak segan melangkah di jalan yang sama dengan yang kita tempuh setiap hari,” ujar seorang warga

Dan benar, di Maluhu malam itu, tarian bukan hanya menjadi hiburan. Ia menjelma menjadi bahasa yang menyatukan antara rakyat dan calon pemimpinnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top