• Sabtu, 06 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur




TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Ratusan umat Hindu di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melaksanakan upacara Melasti pada Kamis (27/3/2025). Ritual sakral ini berlangsung di area pelabuhan depan Museum Mulawarman, Tenggarong, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947.

Melasti merupakan ritual penyucian diri sekaligus pembersihan alam dari energi negatif. Umat Hindu percaya bahwa upacara ini membantu mereka menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan, sebagaimana konsep Tri Hita Karana. Prosesi ini diawali dengan sembahyang dan penghormatan kepada air sebagai sumber kehidupan, dilanjutkan dengan pembersihan simbolis menggunakan air suci (Tirta Amerta).

Menurut Pinandita Dwija, Dr. Ir. Ida Bagus Made Agung Dwijatenaya, M.Si., perayaan Hari Raya Nyepi tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun karena seluruh rangkaian upacara telah tertuang dalam sastra agama Hindu.

"Melasti merupakan prosesi awal sebelum memasuki Nyepi, yang bertujuan untuk menyucikan diri dari segala kekotoran dan dosa. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi daerah, bisa dilakukan di laut, sungai, atau sumber mata air lainnya," ungkapnya.

Selain Melasti, umat Hindu juga akan melaksanakan Tawur Kesanga pada 28 Maret 2025. Ritual ini bertujuan untuk menyeimbangkan alam semesta dan menjauhkan energi negatif menjelang Nyepi. Di Kukar, upacara ini diikuti oleh berbagai komunitas Hindu, termasuk masyarakat dari Kertabuana dan Kecamatan Borakaman.

Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 29 Maret 2025 merupakan momen refleksi dan penyucian diri. Selama 24 jam, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu:
• Amati Geni (Tidak menyalakan api atau cahaya, sebagai simbol pengendalian hawa nafsu).
• Amati Lelanguan (Tidak melakukan hiburan atau kesenangan duniawi).
• Amati Lelungan (Tidak bepergian, melainkan berdiam diri untuk introspeksi).
• Amati Karya (Tidak bekerja atau melakukan aktivitas duniawi).

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah daerah turut mendukung pelaksanaan Nyepi dengan memberikan izin dan fasilitas bagi umat Hindu di Kukar.

"Kami bersyukur atas dukungan pemerintah serta toleransi antarumat beragama yang tinggi di daerah ini. Semangat kebersamaan ini menjadi bukti nyata bahwa harmoni dan kedamaian dapat terus terjaga," tambah Ida Bagus Made Agung Dwijatenaya.

Seiring perayaan Nyepi, masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama sungai sebagai sumber kehidupan. "Jangan buang sampah sembarangan, terutama ke Sungai Mahakam yang menjadi nadi kehidupan banyak orang," pesannya.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Nyepi menjadi momen untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan. Di tengah tahun politik, nilai-nilai Nyepi diharapkan bisa menginspirasi masyarakat untuk menjaga kedamaian dan persatuan. (dri)



Pasang Iklan
Top