
Kapolresta Samarinda dan Kepala Kantor UPBU Kelas I APT Pranoto Samarinda saat konferensi pers. Jumat (18/09/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda menguji kesiapan penanganan kecelakaan pesawat melalui simulasi keadaan darurat, Jumat (18/9/2026).
Latihan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WITA tersebut menggunakan skenario pesawat "Pesut Air" membawa 70 orang, terdiri atas 64 penumpang dan 6 kru, mengalami bird strike saat hendak mendarat.
Dalam skenario, hantaman burung mengenai mesin nomor dua hingga mengakibatkan pesawat kehilangan kendali.
Kemudian pesawat mengalami overrun atau keluar melewati batas landasan pacu di runway 22.
Begitu insiden disimulasikan terjadi, tim Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) APT Pranoto langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan dan pemadaman.
Proses evakuasi diperkuat personel lintas instansi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Polresta Samarinda, Dinas Pemadam Kebakaran, Basarnas, Palang Merah Indonesia (PMI), BKK, TNI AD, TNI AU hingga sejumlah armada ambulans fasilitas kesehatan ikut dikerahkan dalam skenario tersebut.
Kapolresta Samarinda, Kombes Hendri Umar mengatakan, latihan tersebut merupakan bagian dari Full Scale Exercise (FSE) Airport Emergency Exercise (AEE) dan Airport Contingency Exercise (ACE).
"Latihan ini menjadi sarana untuk menyamakan persepsi, menguji SOP (Standar Operasional Prosedur), serta memperkuat koordinasi antarunsur," ujar Hendri
Selain kecelakaan pesawat, latihan juga menguji skenario gangguan keamanan di lingkungan bandara.
Salah satunya berupa penerobosan ke area terbatas yang membutuhkan respons petugas keamanan.
Polresta Samarinda mengerahkan personel Dalmas Sat Samapta, Sat Intelkam, Sat Reskrim, Tim URC, tim negosiator serta personel Polsek Sungai Pinang.
"Dengan latihan bersama seperti ini, diharapkan seluruh personel mampu bergerak cepat, tepat, terukur, dan tetap mengedepankan keselamatan serta pelayanan kepada masyarakat," katanya.
Situasi darurat juga disimulasikan terjadi di area terminal.
Kepanikan dan kericuhan keluarga korban di lobi kedatangan menjadi bagian dari skenario yang harus dikendalikan petugas.
Personel Polri dan TNI melakukan pengamanan, sekaligus mengendalikan massa agar proses penanganan korban tetap berlangsung tertib.
Sementara itu, Kepala Kantor UPBU Kelas I APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan mengemukakan, rangkaian prosedur dalam simulasi, termasuk evakuasi dan pemisahan kondisi korban melalui proses triase, berjalan sesuai standar operasional.
"Seluruh rangkaian simulasi kemudian berakhir dalam keadaan aman, tertib, dan lancar," ucap I Kadek Yuli Sastrawan.
Simulasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari otoritas bandara, TNI, Polri, BPBD, Damkar, Basarnas, tenaga kesehatan, Avsec, PMI hingga pihak maskapai.
Latihan digelar untuk menguji kesiapan setiap unsur, sekaligus memastikan koordinasi dan pembagian tugas dapat berjalan sesuai prosedur ketika menghadapi keadaan darurat penerbangan.
"Semua yang terkait turut memberikan kontribusi besar dalam simulasi ini. Alhamdulillah, kita dapat menyelesaikan simulasi ini dengan maksimal. Tentu tujuan kita adalah untuk menguji kesiapan semua unsur terkait keselamatan. Koordinasi juga terus kita lakukan. Terima kasih semuanya." ucapnya. (Abi)