• Jum'at, 11 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Potret pelatihan menjahit bersama IPPRISIA Kaltim. Kamis (10/09/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Samarinda menggelar pelatihan menjahit bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebagai tindak lanjut dari pembukaan program pembinaan kemandirian yang telah dirancang sebelumnya.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan praktis dan produktif selama menjalani masa pidana.

Pelatihan ini terwujud berkat sinergi antara Rutan Kelas I Samarinda dengan Ikatan Perancang dan Penjahit Indonesia (IPPRISIA) Kalimantan Timur.

Melalui kolaborasi ini, para peserta mendapatkan bimbingan langsung mengenai tahapan dasar pembuatan pakaian, mulai dari teknik manual hingga penggunaan mesin jahit, pembuatan pola, pemotongan kain, hingga proses penyelesaian (finishing).

Kepala Rutan Kelas I Samarinda, Rachmad Tri Raharjo menyampaikan bahwa program ini dirancang agar warga binaan memiliki bekal konkret yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan setelah bebas nanti.

"Pelatihan menjahit ini merupakan bentuk nyata komitmen kami dalam menjalankan program pembinaan kemandirian agar warga binaan memiliki keterampilan yang produktif," ujar Rachmad, Kamis (10/9/2026).

Rachmad menjelaskan kolaborasi dengan instruktur profesional sangat penting untuk memastikan kualitas keterampilan yang didapatkan para peserta sesuai dengan standar industri.

"Melalui sinergi bersama IPPRISIA Kalimantan Timur, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang memiliki nilai praktis dan relevan dengan kebutuhan pasar," tuturnya.

Ia menambahkan pembinaan di Rutan Samarinda tidak hanya fokus pada hasil akhir pakaian, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepribadian para warga binaan selama proses belajar.

"Melalui praktik secara langsung, warga binaan dilatih untuk lebih teliti, disiplin, kreatif, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan setiap pekerjaan," kata Rachmad.

Lebih lanjut, Rachmad berharap program ini dapat menjadi modal utama bagi warga binaan untuk memulai lembaran baru dan berintegrasi kembali dengan masyarakat.

"Kami berharap keterampilan yang diperoleh ini dapat menjadi bekal untuk membangun kemandirian dan membuka peluang usaha ketika mereka kembali ke tengah masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang warga binaan yang menjadi peserta pelatihan menyambut positif kesempatan tersebut.

Ia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru yang sebelumnya tidak pernah dipelajari.

"Saya sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini karena memberikan banyak pengetahuan baru, mulai dari mengenal bahan hingga teknik dasar menjahit," kata salah seorang warga binaan peserta pelatihan.

Ia mengemukakan, proses pembelajaran secara praktik langsung membantunya untuk lebih cepat memahami teknik pemotongan kain dan pembuatan pola pakaian.

"Praktik secara langsung membuat kami bisa memahami proses pembuatan pola dan pemotongan kain dengan lebih detail dan rapi," ujarnya.

Menurutnya, pelatihan ini juga menjadi wadah untuk melatih kesabaran dan membangun rasa percaya diri di dalam rutan.

"Kegiatan ini mengajarkan kami untuk lebih sabar, teliti, dan optimistis bahwa kami masih bisa berkarya meski berada di dalam rutan," ucapnya. (Abi)



Pasang Iklan
Top