
Potret kebakaran di wilayah Pulau Atas, Sambutan, Kota Samarinda. Lahan dan 22 rumah kosong terbakar. Kamis (10/09/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, lebih tepatnya di kawasan Pelita 8, Kelurahan Pulau Atas.
Dalam insiden ini, api tidak hanya membakar vegetasi kering, tetapi juga merembet hingga menghanguskan 22 unit rumah kosong, Kamis (10/9/2026).
Petugas gabungan langsung diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan pemadaman.
Namun, proses pemadaman di lapangan menemui kendala akibat sulitnya akses menuju lokasi dan terbatasnya sumber air.
Kawasan Sambutan tercatat sebagai salah satu wilayah yang rentan dan berulang kali dilanda karhutla selama musim kemarau.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran lahan di wilayah ini telah terdeteksi sejak Sabtu (29/08/2026) di Kelurahan Makroman dan Pulau Atas dengan luas cakupan mencapai 12 hektare.
BPBD Kota Samarinda beserta relawan telah berjibaku memadamkan api di titik tersebut hingga Minggu (30/8/2026) lalu.
Insiden serupa kembali berulang pada Senin (31/8/2026) malam di Jalan Kuburan, RT 02, Kecamatan Sambutan, yang menghanguskan sekitar satu hektare lahan milik warga bernama David.
Kebakaran tersebut diketahui warga setempat sebelum akhirnya dilaporkan ke pihak RT, kepolisian, BPBD, pemadam kebakaran, dan relawan, lalu disusul dengan terbakarnya 22 rumah di wilayah Pulau Atas siang tadi.
Hal ini menunjukkan dalam kondisi kekeringan atau kemarau saat ini, kewaspadaan dan pengamatan terhadap hal yang dapat memicu kebakaran.
Salah seorang warga, Yahya mengemukakan, jika awalnya terdapat asap putih yang timbul.
"Awalnya ada asap putih, lalu ke rumah-rumah kosong, jadi api semakin membesar, terbakar semuanya, sekitar 22 rumah itu," ucap Yahya di lokasi.
Terbakarnya 22 rumah kosong ini menegaskan tingginya risiko karhutla yang kini mengancam kawasan permukiman.
Bangunan kosong bermaterial mudah terbakar rentan menjadi media perambatan api, sehingga petugas harus membagi fokus antara memadamkan lahan dan menyekat api agar tidak menjalar ke pemukiman berpenghuni.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Samarinda telah mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kemarau panjang.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengingatkan masyarakat akan tingginya risiko kekeringan, karhutla, serta dampak kesehatan.
Langkah kesiapsiagaan dan penguatan koordinasi penanganan terus dilakukan Pemkot Samarinda.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran terbaru yang meratakan 22 rumah kosong tersebut masih dalam penyelidikan pihak berwenang.
Berbagai peringatan dan imbauan juga telah disampaikan ke masyarakat, termasuk, imbauan yang disampaikan oleh Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar
"Kami mengimbau keras kepada seluruh masyarakat agar di musim kemarau ini jangan ada lagi yang sengaja membakar lahan atau melakukan aktivitas pembakaran sampah di area terbuka, karena dampaknya sangat fatal dan bisa meluas ke permukiman," ucap Hendri. (Abi)