• Kamis, 27 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Dispar Kaltim, Muhammad Faisal bersama pelaku kreatif perfilman Kaltim.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Penguatan industri film lokal tidak cukup hanya bertumpu pada kemampuan memproduksi karya. Kreator dan sineas di Kalimantan Timur juga perlu memahami cara mengemas ide, membangun jejaring, hingga menentukan strategi distribusi agar film yang dihasilkan mampu menjangkau penonton yang lebih luas.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) melalui Workshop Pengembangan Film Pendek yang berlangsung di Temindung Hub, Samarinda, pada 26-27 Agustus 2026.
Kegiatan yang melibatkan 30 peserta itu diarahkan agar meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) ekonomi kreatif subsektor film sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem perfilman yang semakin kuat di Kaltim.

Kepala Dispar Kaltim, Muhammad Faisal, mengatakan perkembangan teknologi digital telah membuka ruang yang semakin besar bagi masyarakat agar memproduksi dan menyebarkan konten audiovisual. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kreativitas dan kemampuan menghasilkan karya yang memiliki karakter serta orisinalitas.

“Film pendek tidak hanya menjadi tontonan dengan durasi yang singkat. Lebih dari itu, film bisa menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan gagasan, menuangkan kreativitas, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya dan potensi pariwisata daerah,” ujarnya, Rabu (26/8/26).

Menurutnya, kekayaan cerita lokal yang dimiliki Kaltim menjadi modal bagi sineas untuk menghasilkan karya yang mampu berbicara di tingkat lebih luas. Melalui film, berbagai keunikan daerah dapat dikemas menjadi cerita menarik sekaligus menjadi sarana promosi.

Karena itu, peserta tidak hanya diarahkan untuk memahami proses produksi. Workshop tersebut juga membahas tahapan pengembangan ide menjadi karya, penyusunan pitch deck, pembuatan teaser, strategi distribusi hingga menentukan festival film yang tepat.

“Melalui kamera, kita memiliki kesempatan mengenalkan keindahan, keunikan dan cerita-cerita lokal Kaltim kepada masyarakat yang lebih luas, bahkan hingga panggung internasional,” ungkapnya.

Ia menilai, potensi tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas SDM ekonomi kreatif. Pelaku industri dituntut tidak hanya kreatif, tetapi juga adaptif, inovatif dan mampu mengikuti perkembangan industri perfilman.

Ia berharap, pelatihan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya melahirkan lebih banyak sineas lokal yang memiliki kemampuan lengkap, baik dari sisi teknis maupun pengelolaan karya.

“Kita ingin sineas Kaltim tidak hanya kuat dalam aspek teknis dan kreativitas, tetapi juga memahami manajemen, komunikasi, pemasaran, membangun jejaring serta ekosistem industri film,” tambahnya.

Workshop menghadirkan tiga narasumber dari kalangan sineas, yakni Achmad Junaidi, Fatqurozi dan Kholip. Ketiganya memberikan materi dan praktik dengan fokus berbeda sesuai tahapan pengembangan serta pemasaran sebuah karya film.

Fatqurozi membawakan materi penyusunan pitch deck film pendek. Peserta dibekali cara mengemas gagasan film secara sistematis dan menarik agar mudah dipahami calon produser, investor, sponsor maupun lembaga pendanaan.

Sementara Kholip, memberikan materi dan praktik mengenai pembuatan teaser. Pembahasan difokuskan pada cara mengemas sebuah film menjadi materi audiovisual yang dapat membangun rasa penasaran dan menarik perhatian calon penonton.

Adapun Achmad Junaidi mengulas tahapan setelah film selesai diproduksi. Materinya mencakup ekosistem distribusi, jalur distribusi komersial hingga strategi menentukan festival yang sesuai dengan karakter karya.

Ketua Panitia sekaligus Kepala Bidang SDM Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Dahlia, mengatakan 30 peserta yang mengikuti workshop berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari sineas dan komunitas film, penulis skenario, editor, videografer, content creator, pelaku industri kreatif hingga masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap perfilman.

Menurutnya, pelatihan sengaja dirancang dengan porsi praktik lebih besar agar peserta tidak sebatas memperoleh pengetahuan secara teori.

“Metode pelatihannya sekitar 30 persen teori dan 70 persen praktik. Peserta mendapatkan pemaparan materi, berdiskusi, kemudian langsung mempraktikkan materi yang diberikan para narasumber,” jelasnya.

Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertemuan bagi pelaku ekonomi kreatif subsektor film. Interaksi antarpeserta diharapkan membuka peluang kolaborasi antara sineas, komunitas film, kreator konten hingga pemangku kepentingan lainnya.

Melalui peningkatan kapasitas tersebut, Dispar Kaltim berharap karya sineas daerah tidak berhenti setelah proses produksi, tetapi memiliki strategi agar menjangkau pasar, masuk jalur distribusi hingga bersaing dalam berbagai festival film di tingkat nasional maupun internasional. (*Yud)



Pasang Iklan
Top