• Senin, 17 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Laila Fatihah saat menjadi instruktur Pilates.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Sepuluh tahun mengabdi sebagai wakil rakyat tak membuat Laila Fatihah berhenti produktif setelah menuntaskan masa jabatannya di DPRD Kota Samarinda. Politisi yang duduk di parlemen selama dua periode, 2014-2024 itu, kini menjalani babak baru dengan menekuni dunia kebugaran sebagai instruktur pilates.

Pilihan tersebut menjadi cara Laila mengisi kekosongan aktivitas setelah sebelumnya terbiasa dengan padatnya agenda sebagai anggota legislatif. Dari sekadar mencari kegiatan agar menjaga kebugaran, ketertarikannya terhadap pilates berkembang hingga menjadi profesi dan peluang usaha baru.

Awalnya, ia memilih olahraga sederhana seperti berjalan kaki. Namun, ajakan seorang teman kemudian memperkenalkannya dengan pilates. Setelah mencoba, ia merasakan manfaat olahraga tersebut bagi tubuhnya.

“Setelah tidak aktif di DPR, yang tadinya banyak kegiatan kemudian menjadi tidak berkegiatan, badan rasanya juga kurang enak. Akhirnya saya mencari kegiatan positif, mulai dari jalan kaki. Kemudian diajak teman mencoba pilates dan ternyata terasa enak di badan,” ujar Laila di Samarinda, Sabtu (15/8/2026).

Ketertarikan itu tak berhenti sebagai hobi. Dirinya melihat pilates sebagai peluang agar memperoleh manfaat kesehatan sekaligus menjadi aktivitas produktif. Ia kemudian memutuskan mendalami olahraga tersebut dengan mengikuti kursus di Jakarta selama enam bulan.

“Pikiran saya waktu itu sederhana, saya bisa sehat sekaligus menghasilkan. Jadi saya ikut kursus di Jakarta selama enam bulan. Setelah selesai, saya mulai menyiapkan peralatan dan akhirnya membuka tempat latihan,” katanya.

Menurutnya, keputusannya menekuni pilates juga dilandasi keinginan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga tubuh sebelum muncul keluhan kesehatan.

Ia menilai, pilates bukan sekadar tren olahraga yang populer di media sosial. Lebih dari itu, latihan tersebut dapat membantu memperbaiki postur serta melatih bagian tubuh yang kurang aktif.

“Jangan menunggu sakit baru mulai peduli dengan tubuh. Pilates sebenarnya bukan sekadar FOMO. Pilates lebih kepada rehabilitasi tubuh, salah satunya membantu memperbaiki postur,” jelasnya.

Manfaat itu turut dirasakan Laila. Setelah mendalami pilates, ia mengetahui kebiasaan berdiri dan berjalan selama bertahun-tahun ternyata memengaruhi keseimbangan postur tubuhnya.

“Saya baru mengetahui panggul saya ternyata lebih tinggi sebelah, begitu juga bahu. Itu bukan skoliosis, tetapi karena kebiasaan berdiri santai bertumpu pada satu sisi. Akibatnya ada bagian otot yang menjadi tegang,” tuturnya.

Melalui pilates, bagian tubuh yang tegang dapat dilatih agar lebih rileks, sementara otot yang kurang aktif dapat kembali dirangsang melalui gerakan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta.

Pilates Tak Mengenal Batas Usia, Laila menjelaskan pilates memiliki karakter berbeda dibandingkan olahraga seperti gym maupun yoga. Menurutnya, masing-masing olahraga memiliki manfaat tersendiri dan tidak perlu dipertentangkan.

Pilates, kata dia, menitikberatkan latihan pada kontrol gerakan, fleksibilitas serta aktivasi otot. Setiap gerakan juga disesuaikan dengan kemampuan tubuh peserta sehingga tidak dipaksakan melampaui batas.

“Tubuh setiap orang berbeda. Jadi tidak bisa dipaksakan harus mencapai gerakan tertentu. Kalau kemampuan maksimal tubuhnya sampai di situ, ya cukup sampai di situ,” katanya.

Menariknya, ia menyebut pilates dapat dilakukan berbagai kelompok usia, termasuk lanjut usia. Ia bahkan menyediakan kelas khusus bagi peserta berusia 60 tahun ke atas pada akhir pekan.

Gerakan bagi peserta lansia tentunya disesuaikan dengan kemampuan fisik. Salah satu fokusnya adalah mengaktifkan dan memperkuat otot paha yang berperan penting dalam menopang aktivitas sehari-hari.

“Tidak ada batasan usia. Saya ada kelas lansia untuk usia 60 tahun ke atas. Gerakannya tentu disesuaikan. Untuk lansia, salah satunya bagus melatih otot paha sehingga membantu aktivitas seperti berdiri, duduk maupun gerakan sehari-hari,” terangnya.

Pilates juga tidak hanya diperuntukkan bagi perempuan. Laki-laki dapat mengikuti latihan, baik melalui kelas kelompok maupun kelas privat. Untuk kelas tertentu, pengaturan peserta dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan dan privasi masing-masing anggota.

Sementara bagi masyarakat yang ingin berlatih tanpa menggunakan alat reformer, sejumlah gerakan dasar juga dapat dilakukan menggunakan matras di rumah.

Dari Kesibukan Politik ke Delapan Sesi Sehari
Keseriusan Laila menekuni profesi barunya terlihat dari jadwal latihan yang cukup padat. Dalam sehari, ia dapat menangani hingga delapan sesi yang terbagi antara pagi dan sore hingga malam hari. Setiap sesi berlangsung sekitar satu jam.

Untuk peserta reguler, ia menyarankan latihan setidaknya dua kali dalam sepekan agar manfaat latihan dapat dirasakan secara bertahap.

Kelas yang tersedia juga disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Ada latihan dengan gerakan lebih cepat yang cenderung diminati anak muda, hingga latihan yang berfokus pada perbaikan dan pemulihan fungsi tubuh.

Laila mengatakan penggunaan alat reformer memungkinkan berbagai bagian tubuh dilatih dalam satu rangkaian, mulai dari kaki, tangan, perut hingga tubuh bagian atas.

“Kalau berjalan kaki, yang paling terasa memang bagian kaki sampai panggul. Sementara tubuh bagian atas juga membutuhkan fleksibilitas dan latihan. Di reformer, gerakan tangan, kaki sampai otot perut bisa dilatih,” jelasnya.

Untuk sekali kedatangan atau drop in, tarif latihan berada di kisaran Rp200 ribu. Sementara peserta yang mengambil paket keanggotaan mendapatkan tarif sekitar Rp150 ribu per sesi. Khusus momentum Kemerdekaan RI, Laila memberikan promo Rp100 ribu untuk tiga hari, yakni Sabtu, Minggu dan Senin.

Peralihan aktivitas dari dunia politik menuju olahraga tersebut kini menjadi kesibukan baru bagi Laila. Ia mengaku mendapatkan dua manfaat sekaligus menjaga kebugaran sekaligus membuka peluang usaha setelah menyelesaikan pengabdiannya selama dua periode di DPRD Samarinda.

“Ini akhirnya menjadi kesibukan saya untuk memanfaatkan waktu. Saya mendapatkan sehat, sekaligus juga bisa menghasilkan,” pungkasnya. (*Yud)



Pasang Iklan
Top