• Jum'at, 14 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala DP3A Kaltim, Syarifah Alawiyah , Jumat (14/8/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Upaya menekan kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak di Kalimantan Timur bakal diperkuat melalui gerakan lintas sektor. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim tengah menyiapkan tim percepatan yang melibatkan organisasi perempuan, akademisi, tenaga kesehatan hingga berbagai kalangan profesional untuk turun langsung melakukan edukasi dan pencegahan di masyarakat.

Kepala DP3A Kaltim, Syarifah Alawiyah, mengatakan kekerasan terhadap perempuan telah menjadi persoalan yang berada pada kondisi darurat. Karena itu, penanganannya tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan organisasi masyarakat hingga kalangan profesional.

“Untuk kekerasan terhadap perempuan, ini sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang darurat. Karena itu, perlu ada langkah bersama agar pencegahannya bisa semakin kuat,” katanya, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, sejak menjabat sebagai Kepala DP3A Kaltim, sejumlah organisasi telah datang dan menawarkan dukungan secara sukarela. Mereka bersedia terlibat memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk berbagi pengetahuan yang dapat mendukung peningkatan ekonomi keluarga.

Potensi tersebut dinilai perlu dihimpun agar program yang selama ini berjalan secara terpisah dapat bergerak lebih terkoordinasi. DP3A Kaltim pun berencana merangkul organisasi-organisasi tersebut dalam sebuah gerakan bersama.

“Kami berencana merangkul mereka dan nantinya turun bersama-sama melalui semacam road show. Kami ingin langsung menyentuh masyarakat sebagai upaya pencegahan agar kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak semakin meningkat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, organisasi yang akan dilibatkan sebagian besar merupakan organisasi perempuan dengan latar belakang anggota yang beragam. Di dalamnya terdapat akademisi, guru, dokter hingga kalangan profesional lainnya.

Keberagaman keahlian tersebut, menjadi modal agar membangun pendekatan pencegahan yang lebih komprehensif. Tidak hanya memberikan pemahaman mengenai kekerasan dan perlindungan perempuan serta anak, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

“Nanti saya ingin membentuk tim percepatan lintas sektor untuk bersama-sama mengatasi kondisi darurat kekerasan dan pelecehan ini. Ada dosen, guru, dokter dan berbagai profesi lainnya yang siap membantu,” jelasnya.

Rencana tersebut sekaligus diarahkan agar memperkuat kelembagaan dan menyatukan gerakan organisasi perempuan di Kaltim. Sebab, selama ini sejumlah organisasi telah memiliki program dan jaringan masing-masing, namun pelaksanaannya cenderung berjalan sendiri-sendiri.

Dirinya menilai sebagian organisasi bahkan telah memiliki struktur dan pengalaman yang cukup matang serta jaringan hingga kabupaten dan kota. Potensi tersebut dinilai akan sangat membantu pemerintah apabila dapat disinergikan dalam satu gerakan pencegahan.

“Sebagian organisasi ini sebenarnya sudah berjalan dengan baik, bahkan ada yang jaringannya sudah sampai kabupaten dan kota. Sayang sekali kalau potensi tersebut tidak kita rangkul untuk bersama-sama membantu mengatasi persoalan ini,” katanya.

Pembentukan tim lintas sektor juga menjadi salah satu strategi DP3A Kaltim dalam menghadapi keterbatasan sumber daya manusia. Menurutnya, besarnya cakupan persoalan perempuan dan anak membuat pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri.

“DP3A tidak bisa bekerja sendiri. Di samping menjalankan pekerjaan rutin, kami juga memiliki keterbatasan SDM. Dengan keterlibatan lintas sektor ini tentu akan sangat membantu. Harapannya, penanganan dan pencegahan bisa dilakukan secara lebih luas dan bersama-sama,” pungkasnya.

DP3A Kaltim berharap, edukasi dan pencegahan dapat menjangkau masyarakat secara langsung, sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa perlindungan perempuan dan anak merupakan tanggung jawab berbagai unsur, bukan hanya pemerintah. (*Yud)



Pasang Iklan
Top