
Kobaran api yang masih menyala di salah satu rumah, Sabtu (8/8/2026), (foto:Achmad Nizar/KutaiRaya).
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Di tengah terik musim kemarau, kobaran api tiba-tiba membesar di kawasan padat penduduk Jalan Ruwan, Kelurahan Timbau, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 13.30 WITA.
Tujuh rumah terdampak dalam kejadian tersebut, yakni 4 rumah dilaporkan terbakar, sedangkan 3 rumah lainnya terkena dampak akibat kobaran api.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar, Fida Hurasani mengatakan, proses pemadaman berlangsung cukup sulit.
Selain lokasi rumah yang berada di bagian dalam permukiman, petugas juga menghadapi kendala pasokan air akibat kondisi Sungai Mahakam yang sedang surut.
"Kesulitan kita memang tadi suplai air sempat macet karena pasokan air dari Mahakam surut jauh ke bawah," ujarnya dijumpai di lokasi kejadian.
Kondisi ini membuat pasokan air ke titik kebakaran tidak maksimal.
Bahkan petugas harus menggunakan strategi pemblokiran agar kobaran api tidak semakin meluas ke rumah warga lainnya.
"Air kami tidak maksimal sampai ke titik, hanya bisa untuk memblok. Ditambah angin cukup kencang," tuturnya.
Menurutnya, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman.
Cuaca yang terik, angin dan kondisi sungai yang surut membuat petugas harus bekerja lebih keras.
Ia mengatakan, lokasi kebakaran juga tidak berada tepat di pinggir jalan utama.
Sejumlah rumah berada di bagian dalam permukiman sehingga kendaraan pemadam mengalami keterbatasan akses untuk mendekati titik api.
"Ini termasuk kejadian yang agak sulit karena aksesnya masuk ke dalam. Rumah berada di bagian belakang atau di tengah-tengah permukiman. Ada akses, tetapi unit kami tidak bisa masuk," katanya.
Sebanyak sekitar 8 unit kendaraan pemadam dikerahkan dalam penanganan kebakaran tersebut.
Ia menuturkan proses pemadaman berlangsung sekitar satu jam.
Petugas Damkar juga dibantu sejumlah relawan dalam melakukan pemadaman, sekaligus membuat blokade agar api tidak merambat ke bangunan lainnya.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Namun, beberapa warga sempat mengalami kondisi lemas dan perlu dibantu keluar dari lokasi.
"Tidak ada korban jiwa. Tadi ada informasi yang pingsan, mungkin karena kaget. Ada sekitar 3 orang yang dipapah, tetapi kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan," ujarnya.
Dari 7 rumah yang terdampak, sebagian merupakan bangunan berbahan kayu dan sebagian lainnya berbahan beton.
Rumah yang berbahan kayu mengalami kerusakan lebih parah akibat api.
"Ada rumah kayu dan ada yang beton. Yang beton tadi hanya bagian atapnya, sedangkan yang kayu habis," katanya.
Untuk kerugian material, ia belum dapat memastikan nilai pastinya.
Namun, berdasarkan perkiraan awal, kerugian disebut mencapai sekitar Rp 1 miliar.
Terkait penyebab kebakaran, pihak Damkarmatan belum dapat memastikan.
Saat petugas tiba di lokasi, api sudah membesar sehingga penyebab awal kebakaran masih perlu diselidiki lebih lanjut oleh pihak berwenang.
"Pak RT juga belum berani memastikan. Kami datang api sudah sangat besar. Biarkan nanti petugas yang berwajib melakukan olah TKP," tuturnya.
Walaupun kejadian berada di bantaran sungai, tidak berarti pemadaman pasti berjalan lancar.
Dalam kondisi sungai surut dan angin kencang, proses pemadaman menjadikan penuh tantangan.
"Tadi bisa dilihat bagaimana petugas bersama relawan berjuang melakukan pemadaman dan memblok api agar tidak meluas," ujarnya.
Sementara itu, Kapolsek Tenggarong, AKP Nahrawi mengatakan, pihaknya telah menerjunkan personel untuk membantu penanganan di lokasi, sekaligus melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran.
"Anggota kami sudah kami turunkan untuk membantu juga di lapangan. Untuk penyebabnya kami masih belum bisa memastikan karena anggota kami masih melakukan penyelidikan," tuturnya.
Ia mengemukakan, dugaan sementara kebakaran kemungkinan berasal dari korsleting listrik.
Namun, dugaan ini masih harus dibuktikan melalui proses penyelidikan di lapangan. (*zar)