• Minggu, 05 Juli 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, pada hari Jumat (3/7/2026).(Foto:Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan mengalami kenaikan pada Juni 2026. Meski demikian, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan memastikan laju inflasi di Kota Beriman masih berada dalam kondisi terkendali dan bahkan lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi nasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan inflasi tahunan Balikpapan pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,80 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen maupun inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 3,20 persen.

"Secara keseluruhan, perkembangan inflasi di Balikpapan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2026, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen," ujarnya, pada hari Jumat (3/7/2026).

Secara bulanan (month to month/mtm), Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,86 persen. Kenaikan harga terutama dipicu kelompok transportasi dan energi, menyusul penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta dampak lanjutan kenaikan tarif angkutan udara akibat kebijakan fuel surcharge.

Bank Indonesia mencatat lima komoditas yang paling besar menyumbang inflasi di Balikpapan, yakni bensin, angkutan udara, bawang merah, jagung manis, dan beras.

Kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga Pertamax mulai 10 Juni 2026. Sementara tarif angkutan udara meningkat karena tingginya harga avtur dunia yang berdampak pada penerapan fuel surcharge. Di sisi lain, kenaikan harga bawang merah, jagung manis, dan beras dipengaruhi terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi serta meningkatnya biaya logistik.

Meski demikian, tekanan inflasi berhasil diredam oleh turunnya harga sejumlah komoditas. Cabai rawit, semangka, bahan bakar rumah tangga, tas sekolah, dan tomat menjadi penyumbang utama deflasi selama Juni.

Penurunan harga cabai rawit dan tomat didorong musim panen di sejumlah daerah sentra produksi, sedangkan harga semangka turun karena meningkatnya pasokan dari Jawa dan wilayah sekitar Balikpapan. Sementara itu, harga bahan bakar rumah tangga menurun berkat operasi pasar yang digelar pemerintah.

Robi menjelaskan, stabilitas inflasi tidak terlepas dari kecukupan pasokan pangan serta sinergi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Berbagai program stabilisasi harga, seperti Gerakan Pangan Murah, pasar murah, dan operasi pasar, terus dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Sepanjang Juni 2026, TPID telah menggelar sembilan kali Gerakan Pangan Murah di Balikpapan serta lima kegiatan penyebaran benih tanaman sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.

Meski optimistis inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi pada semester II 2026. Musim kemarau dan potensi dampak El Nino diperkirakan dapat memengaruhi produksi pertanian di daerah sentra pemasok pangan, sehingga berpotensi mengganggu pasokan ke Balikpapan.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan pangan seiring percepatan operasional program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga diperkirakan akan mendorong permintaan komoditas pangan.

"Bank Indonesia bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat sinergi melalui TPID untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran nasional," kata Robi. (Las)



Pasang Iklan
Top