
Aktifitas salah satu receptionist hotel samarinda, Jum
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Industri perhotelan di Kalimantan Timur masih menghadapi tekanan akibat menurunnya kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan hotel. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada tingkat hunian dan pendapatan hotel, tetapi juga turut memengaruhi rantai pasok yang selama ini bergantung pada aktivitas industri perhotelan.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kalimantan Timur, Hendri Kurniawan, mengatakan pendapatan hotel pada tahun ini masih mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu penyebab utama adalah berkurangnya kegiatan yang diselenggarakan instansi pemerintah di hotel.
"Kalau dibandingkan tahun lalu, pendapatan hotel masih mengalami penurunan. Berkurangnya kegiatan MICE tentu sangat berpengaruh terhadap kondisi industri perhotelan di Kalimantan Timur," ujarnya, Jumat (3/7/26).
Menurutnya, dampak penurunan aktivitas MICE tidak hanya dirasakan oleh pengelola hotel, tetapi juga pelaku usaha lain yang menjadi mitra dalam rantai pasok industri tersebut. Berbagai pemasok kebutuhan hotel, mulai dari bahan pangan hingga jasa pendukung lainnya, ikut merasakan penurunan permintaan.
Ia menyebut sejumlah komoditas yang selama ini rutin diserap hotel, seperti daging, telur, beras, cabai, hingga berbagai kebutuhan konsumsi lainnya, mengalami penurunan permintaan seiring berkurangnya kegiatan di hotel.
"Ketika kegiatan di hotel menurun, yang terdampak bukan hanya hotel. Para pemasok daging, telur, beras, cabai, dan berbagai kebutuhan lainnya juga ikut merasakan dampaknya karena permintaan otomatis berkurang," katanya.
Karena itu, IHGMA Kalimantan Timur berharap pemerintah dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi penyelenggaraan kegiatan di hotel agar roda perekonomian yang melibatkan banyak sektor dapat kembali bergerak.
"Kami berharap ada kelonggaran anggaran sehingga kegiatan-kegiatan bisa kembali dilaksanakan di hotel. Dengan begitu dampaknya tidak hanya dirasakan hotel, tetapi juga pelaku usaha lain yang menjadi mitra kami," ungkap Hendri.
Di tengah terbatasnya kegiatan dari instansi pemerintah, pelaku industri perhotelan kini dituntut untuk lebih adaptif dalam mencari sumber pasar baru. Hendri menjelaskan, berbagai hotel di Kalimantan Timur mulai mengalihkan fokus pemasaran ke sektor swasta sebagai upaya menjaga keberlangsungan usaha.
Menurutnya, pasar perusahaan swasta, asosiasi, organisasi masyarakat, hingga penyelenggara berbagai kegiatan sosial menjadi segmen yang kini terus diperkuat untuk menggantikan sebagian pasar dari instansi pemerintah.
"Strategi kami sekarang adalah mencari pengganti pasar pemerintah. Kami menyasar perusahaan swasta, asosiasi, berbagai kegiatan sosial, dan event lainnya agar pendapatan hotel tetap bisa terjaga," jelasnya.
Selain memperluas pasar, sejumlah hotel juga memanfaatkan kondisi saat ini untuk melakukan renovasi dan peningkatan fasilitas. Langkah tersebut dilakukan agar ketika kondisi industri kembali normal, hotel sudah memiliki pelayanan dan fasilitas yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan daya saing.
"Kami memanfaatkan momentum ini untuk melakukan pembenahan dan renovasi. Harapannya ketika kondisi sudah normal, hotel siap menerima tamu dengan pelayanan dan fasilitas yang lebih baik," katanya.
Dirinya juga menilai penguatan kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif dan sektor pariwisata menjadi kunci penting dalam membangkitkan industri perhotelan. Menurutnya, sinergi antara hotel, pelaku ekonomi kreatif, penyelenggara event, hingga pengelola destinasi wisata dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang saling mendukung dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
"Ke depan kami ingin terus berkolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif dan sektor pariwisata agar bisa tumbuh bersama. Jika destinasi wisata berkembang dan event semakin banyak, tentu industri perhotelan juga akan ikut bergerak," pungkasnya. (*Yud)