
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, saat ditemui dalam kegiatan aksi bersih-bersih pantai bandara lama, Minggu (21/6/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai mendorong transformasi besar dalam pengelolaan sampah. Tidak hanya menargetkan pengurangan volume sampah hingga 50 persen dari tingkat rumah tangga, pemerintah juga berharap proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di kawasan Balikpapan Raya segera terealisasi sebagai solusi jangka panjang persoalan lingkungan perkotaan.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mengatakan upaya pengurangan sampah sebenarnya telah didukung oleh berbagai regulasi daerah.
Pemerintah Kota Balikpapan telah memiliki peraturan daerah maupun peraturan wali kota yang mengatur pemilahan sampah serta pembatasan penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas perdagangan dan pelayanan masyarakat.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah awal untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa sampah bukan semata-mata limbah yang harus dibuang, melainkan harus dikelola sejak dari sumbernya.
“Pemerintah Kota Balikpapan sudah memiliki peraturan yang mengatur pemilahan sampah dan pembatasan penggunaan plastik. Ini menjadi bagian dari komitmen kita untuk mengurangi timbulan sampah dan menjaga kualitas lingkungan kota,” kata Bagus, saat ditemui dalam kegiatan aksi bersih-bersih pantai bandara lama, pada hari Minggu, 21 Juni 2026.
Bagus menilai pengelolaan sampah di masa depan tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, volume sampah terus meningkat sehingga diperlukan pendekatan baru yang lebih berkelanjutan.
Pemkot Balikpapan mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah tangga. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan melalui budidaya maggot, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.
“Kalau masyarakat mulai memilah sampah dari rumah dan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos atau maggot, beban sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang hingga 50 persen,” ujarnya.
Menurut Bagus, gerakan tersebut tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengelolaan sampah yang bernilai guna.
Selain pengurangan sampah dari sumbernya, Pemkot Balikpapan juga menaruh harapan besar pada pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy yang direncanakan melayani kawasan Balikpapan Raya.
Proyek tersebut dinilai menjadi salah satu solusi strategis dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah di kota yang terus berkembang, terutama sebagai gerbang utama menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kami berharap pembangunan pengolahan sampah menjadi energi listrik bisa segera dilaksanakan, baik dari sisi konstruksi maupun operasionalnya. Ini akan menjadi solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menghasilkan energi yang bermanfaat,” katanya.
Jika terealisasi, fasilitas tersebut akan mengubah paradigma lama pengelolaan sampah dari sekadar membuang menjadi memanfaatkan sampah sebagai sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi.
Bagus menegaskan bahwa keberhasilan program pengurangan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Pemerintah terus mengajak seluruh elemen, mulai dari perusahaan swasta, komunitas, sekolah, hingga lingkungan keluarga untuk memperkuat budaya gotong royong menjaga kebersihan.
Ia mengungkapkan, Wali Kota Balikpapan juga telah menerbitkan surat edaran yang mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari identitas kota.
“Balikpapan selama ini dikenal sebagai kota bersih dan telah menerima berbagai penghargaan di bidang lingkungan. Prestasi itu harus terus dipertahankan melalui keterlibatan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Di tengah pertumbuhan kota yang semakin pesat sebagai penyangga IKN, pengelolaan sampah menjadi salah satu isu strategis yang akan menentukan kualitas hidup masyarakat di masa depan. Karena itu, Bagus berharap budaya memilah sampah, mengurangi plastik, dan mengolah limbah rumah tangga dapat menjadi kebiasaan baru yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Yang kita bangun bukan hanya kota yang bersih hari ini, tetapi juga lingkungan yang sehat dan berkelanjutan untuk anak cucu kita nanti,” pungkasnya.
Dikesempatan berbeda, Kepala DLH Balikpapan Sudirman Djayaleksana, mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong penerapan pengelolaan dan pemilahan sampah yang dimulai dari rumah, sebagai salah satu upaya mengurangi sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Sudirman juga mendorong masyarakat untuk memilah sampah domestik, seperti sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos atau makanan maggot, serta sampah plastik yang memiliki nilai ekonomi.
“Dengan memilah sampah, masyarakat bisa mendapatkan manfaat ekonomi, misalnya dengan menjual sampah plastik kepada pengepul,” ungkapnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dapat terus meningkat, sehingga kebersihan kota tetap terjaga dan lingkungan menjadi lebih sehat. (Las)