• Kamis, 21 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kondisi Banjir di Kecamatan Tabang Tahun 2025.(Dok. BPBD Kukar)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Banjir yang melanda 5 kecamatan di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur (Kaltim), dilaporkan semakin parah dalam beberapa hari terakhir.

Bahkan, ketinggian air mencapai sekitar 2 meter hingga merendam ribuan rumah warga dan sejumlah fasilitas umum, seperti kantor polisi, masjid, serta sekolah.

Di beberapa lokasi, bangunan hanya menyisakan bagian atap.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi wilayah hilir Sungai Mahakam, termasuk Kabupaten Kutai Barat dan Kutai Kartanegara (Kukar), yang berpotensi terdampak luapan air kiriman.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Setianto Nugroho Aji mengatakan, tingginya curah hujan di wilayah Mahulu dan Kutai Barat menjadi salah satu faktor utama terjadinya banjir.

“Di Mahakam Ulu maupun di Kutai Barat memang saat ini menghadapi intensitas hujan yang cukup tinggi. Padahal, musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada Juni hingga pertengahan September,” ucapnya, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan, meskipun Kukar mulai memasuki musim kemarau, potensi hujan dengan intensitas rendah hingga menengah masih berpeluang terjadi di wilayah Mahulu dan Kutai Barat.

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Kukar, dampak banjir saat ini mulai dirasakan di kawasan Melak Hilir, Kutai Barat.

Menurutnya, kondisi geografis Sungai Mahakam yang panjang serta keberadaan Danau Semayang dan Danau Melintang di wilayah Kukar turut memengaruhi pola aliran air dari hulu ke hilir.

“Potensi hujan di daerah tersebut masih cukup tinggi. Selain itu jaringan Sungai Mahakam cukup panjang dan ada Danau Semayang serta Danau Melintang yang membantu menampung debit air,” tuturnya.

Kendati demikian, Setianto menilai dampak banjir di wilayah Kukar, khususnya Tenggarong, relatif kecil.

Hal ini dikarenakan banjir saat ini terjadi di musim kemarau dan tidak bersamaan dengan kondisi air pasang.

“Karena ini terjadi di musim kemarau, air diperkirakan lebih cepat surut. Ada penguapan, kemudian air juga terserap ke Danau Semayang dan Danau Melintang yang memiliki kapasitas cukup luas,” katanya.

Ia menambahkan, potensi banjir besar di Tenggarong biasanya meningkat apabila luapan air kiriman dari hulu terjadi bersamaan dengan air pasang dari hilir.

Namun, kondisi saat ini air lebih cepat mengalir dan terserap di kawasan danau.

Meskipun situasi di Kukar masih relatif aman, BPBD tetap mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran dan bantaran Sungai Mahakam agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan tinggi permukaan air.

"Kami juga meminta warga aktif memantau informasi prakiraan cuaca serta perkembangan situasi banjir melalui berita maupun media sosial resmi agar dapat melakukan antisipasi lebih dini apabila debit air mengalami peningkatan," ujarnya.

BPBD Kukar bersama pihak terkait akan terus memantau perkembangan kondisi banjir di Kutai Barat dan Mahakam Ulu, terutama di wilayah Melak Hilir, sambil menunggu pembaruan laporan dari lapangan. (Dri)



Pasang Iklan
Top