• Senin, 04 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Sekretariat KONI Kukar.(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Sorotan tajam sempat mengarah ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutai Kartanegara (Kukar).

Kritik bermunculan di media sosial, menyinggung kondisi organisasi yang dinilai tidak aktif. Bahkan, suasana sekretariat KONI Kukar disebut-sebut terlihat sepi dan minim aktivitas.

Menanggapi hal tersebut, Ketua KONI Kukar, Chairil Anwar, akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan, kondisi yang terjadi bukan karena kurangnya kemauan untuk bergerak, melainkan lebih pada keterbatasan anggaran yang saat ini dihadapi.

"Biar saja, daripada mengurus orang itu," ujar Chairil pada KutaiRaya.com, Jumat (24/4/2026).

Ia kemudian mengajak publik untuk melihat kondisi secara menyeluruh, khususnya soal perubahan situasi anggaran yang kini jauh berbeda dibanding sebelumnya.

"Kenapa dulu muncul, sekarang tidak ada anggaran, kenapa tidak muncul? Coba tanyakan kembali ya. Sekarang anggaran segitu, sekretariatnya saja tidak cukup," jelasnya.

Ia mengungkapkan, pada masa lalu saat anggaran masih melimpah, banyak pihak yang aktif dan terlibat dalam kegiatan olahraga. Namun kini, ketika kondisi keuangan terbatas, partisipasi tersebut ikut menurun.

"Dulu anggarannya berlimpah ruah, semua mau. Sekarang mana ada, rapat saja tidak muncul kok," katanya.

Ia juga menyinggung minimnya kehadiran dalam rapat pimpinan, yang menurutnya dipengaruhi oleh ketiadaan dukungan anggaran.

"Rapat pimpinan, berapa saja yang hadir? Karena tidak ada uangnya. Makan minum saja kita sudah susah-susah," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, hingga saat ini KONI Kukar masih bergantung pada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) untuk kebutuhan dasar operasional.

"Sampai detik ini kita masih menyusu ke Dispora. Bayar air, bayar listrik, wifi juga masih dari sana," tuturnya.

Ketergantungan itu, menurutnya, tidak lepas dari status aset yang masih tercatat atas nama Dispora, termasuk fasilitas sekretariat.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung aspirasi dari cabang olahraga, seperti yang disampaikan Ketua Persatuan Gulat, yang meminta DPRD untuk menambah anggaran KONI.

"Ada yang bertanya, kenapa KONI cuma dapat 200 juta, naikkanlah. Nanti kita diskusi," ujarnya.

Namun, Chairil mengaku realistis menghadapi kondisi keuangan daerah saat ini. Dengan pengalamannya puluhan tahun di pemerintahan daerah, ia memahami bahwa situasi fiskal tidak lagi seperti dulu.

"Saya puluhan tahun di pemerintah daerah, paham. tidak mau ngoyo-ngoyo juga saya, susahnya cari uang sekarang," tegasnya.

Ia pun menutup dengan perbandingan kondisi anggaran masa lalu dan sekarang yang menurutnya sangat kontras.

"Dulu namanya anggaran kurang salur, sekarang namanya tidak disalurkan," tutupnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top