• Senin, 04 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Daini Fahreza saat tampil di salah satu event di Kota Samarinda.(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Di tengah hiruk pikuk dunia akademik, seorang mahasiswa Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul), Daini Fahreza, justru memilih menapaki jalur yang tidak semua orang berani ambil, dengan memilih menjadi musisi jazz di industri musik Kota Samarinda.

Jazz sendiri adalah, genre musik yang lahir dari perpaduan budaya Afrika-Amerika di awal abad ke-20, ditandai dengan improvisasi, kebebasan ekspresi, serta permainan ritme dan harmoni yang fleksibel, di mana musisi tidak hanya memainkan nada sesuai partitur, tetapi juga “berdialog” melalui instrumen untuk menyampaikan emosi secara spontan dan personal, sehingga setiap penampilan bisa terasa unik meski berasal dari lagu yang sama.

Ketertarikan Daini terhadap musik jazz bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia telah mengenal dan menyukai genre tersebut sejak duduk di bangku SMA. Dari sekadar mendengar, ketertarikan itu perlahan berkembang menjadi proses belajar, eksplorasi, hingga akhirnya menciptakan karya sendiri.

“Jazz itu bukan cuma musik, tapi cara bercerita. Ada ruang untuk jujur di dalamnya,” ujar Daini, Senin (4/5/2026).

Keseriusannya di dunia musik dibuktikan dengan sejumlah lagu ciptaan yang kini telah tersedia di platform digital, seperti Spotify.

Beberapa di antaranya adalah Fantasi Mimpi, Cinta Di Malam Hari, dan Oh Sayang!, tiga karya dengan warna emosi yang berbeda namun tetap berada dalam benang merah yang sama, yakni perasaan manusia.

Lagu Fantasi Mimpi mengangkat kisah dua orang yang saling memiliki rasa, namun tidak bisa bersatu karena masing-masing telah memiliki pasangan. Lagu ini menghadirkan konflik batin yang kompleks, antara keinginan dan realitas.

“Kadang yang paling sakit itu bukan kehilangan, tapi tahu bahwa kita tidak bisa memiliki sejak awal,” ucapnya.

Sementara itu, Cinta Di Malam Hari menggambarkan seseorang yang menyimpan perasaan dalam diam. Lagu ini membawa nuansa sunyi dan reflektif, seolah menjadi ruang bagi pendengar yang pernah merasakan hal serupa.

“Tidak semua perasaan harus disampaikan. Ada yang cukup dirasakan, lalu dilepas pelan-pelan,” katanya.

Berbeda dengan dua lagu sebelumnya, Oh Sayang! hadir dengan nuansa yang lebih ringan dan hangat. Lagu ini menceritakan seseorang yang sedang jatuh cinta, dengan segala rasa bahagia dan harapan yang menyertainya.

“Jatuh cinta itu sederhana, tapi efeknya bisa mengubah cara kita melihat dunia,” ungkap Daini.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Daini tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pendidikan dan passion di dunia musik. Baginya, keduanya tidak harus saling bertentangan, justru bisa saling melengkapi.

Ia juga melihat bahwa latar belakangnya di bidang psikologi turut memengaruhi cara ia menulis lagu, terutama dalam memahami emosi dan dinamika perasaan manusia.

“Psikologi membantu saya memahami cerita di balik perasaan. Musik jadi cara saya menyampaikannya,” jelasnya.

Perjalanan Daini dalam mengekspresikan perasaan dalam lantunan Jazz tentu masih panjang, namun langkah yang ia ambil menunjukkan bahwa ruang berkarya selalu lahir dari sudut-sudut yang tak terduga, bahkan dari ilmu pengetahuan psikologi.

“Musik tidak butuh tempat besar untuk lahir, cukup keberanian untuk jujur dan saya akan terus bermain, selama hati ini masih punya cerita.” tutupnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top