
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kutikulum, SMA N 2 Tenggarong Inna Alfiah Rochmawati.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Kisah inspirasi datang dari SMA Negeri 2 Tenggarong.
Di tengah kesibukannya mengajar, sosok Inna Alfiah Rochmawati berdiri tenang.
Ia menyapa murid-muridnya dengan senyuman yang selalu mencairkan suasana.
Kisahnya menjadi cerminan nyata semangat Kartini di masa kini.
Lebih dari dua dekade, Inna mengabdikan diri sebagai guru.
Total 25 tahun sebagai ASN dan 20 tahun di sekolah tersebut bukan sekadar angka, melainkan perjalanan panjang penuh makna.
Perempuan asal Jawa Barat ini awalnya berkarier di kementerian di Jakarta, sebelum akhirnya mengikuti mutasi ke Kalimantan Timur pada 2005.
“Awalnya dari Jakarta, lalu sempat di Bogor, kemudian ikut suami pindah ke sini. Sejak itu saya menetap dan mengajar di Tenggarong,” tuturnya, Selasa (21/4/2026).
Di balik ketegasan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, tersimpan rasa cinta yang besar terhadap profesinya.
Baginya, guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa.
“Saya mencintai profesi ini. Banyak sukanya, apalagi anak-anak di sini sopan, saling menghargai, dan lingkungan guru juga solid,” katanya.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Inna memahami betul setiap murid membawa cerita hidup masing-masing.
Ada yang datang dengan semangat, adapula membawa beban dari rumah.
“Kadang ada siswa yang sulit diatur. Tapi setelah kita pahami, ternyata mereka kurang perhatian di rumah. Di situ peran guru bukan hanya mengajar, tapi juga menjadi tempat mereka mencari perhatian,” ucapnya.
Tak jarang, ia harus melangkah lebih jauh mengunjungi rumah murid, berbicara dengan orangtua, bahkan mengambil peran layaknya seorang ibu.
“Saya pernah datang langsung ke rumahnya, mencoba mendekatkan diri dengan orangtuanya. Kita ingin anak itu punya motivasi lagi untuk belajar,” tambahnya.
Semangat itulah yang ia yakini sebagai ruh seorang Kartini masa kini.
Bagi Inna, perempuan tidak boleh dibatasi oleh stigma lama.
Ia percaya perempuan harus berilmu, tangguh, dan berdaya.
“Perempuan itu tidak hanya di sumur, dapur, dan kasur. Perempuan harus berilmu. Tidak ada batasan, bahkan jadi pemimpinpun bisa,” tuturnya.
Di ruang kelas, nilai-nilai itu ia tanamkan kepada para siswinya bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan.
Di momen Hari Kartini, pesannya sederhana namun kuat.
Ia mengajak para guru perempuan untuk tetap sabar, konsisten, dan menjadi teladan.
“Kesabaran itu tidak bisa sehari. Harus terus-menerus. Kita mendidik, bukan hanya mengajar,” ujarnya.
Bagi guru-guru muda, ia juga berpesan agar mampu menyeimbangkan peran, baik sebagai pendidik maupun sebagai ibu di rumah.
“Prioritas kita tetap anak-anak didik. Tapi keluarga juga harus tetap diperhatikan. Keduanya bisa berjalan seimbang,” katanya.
Kini, di usia pengabdiannya yang panjang, Inna masih menyimpan harapan besar.
Ia ingin pendidikan di Kutai Kartanegara terus maju, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.
“Kalau pendidikan maju, daerah juga akan maju. Dan perempuan punya peran besar di dalamnya,” ucapnya.
Di tengah peringatan Hari Kartini, sosok Inna menjadi bukti bahwa semangat emansipasi tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga tumbuh dan berkembang di ruang-ruang kelas, melalui tangan-tangan perempuan yang tak lelah mendidik generasi bangsa. (Dri)