
Transportasi Bajaj di Tenggarong.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Kehadiran alat transportasi bajaj modern berbasis layanan Maxride mulai menarik perhatian masyarakat di Tenggarong.
Kendaraan roda tiga ini belakangan tampak wira-wiri mengantarkan penumpang, baik pelajar yang pulang sekolah maupun warga yang hendak menuju fasilitas umum.
Meskipun tergolong baru di Tenggarong, transportasi ini cepat mendapat respons positif dari masyarakat.
Selain menawarkan kenyamanan karena terlindung dari panas dan hujan, tarif yang ditawarkan relatif terjangkau, mulai Rp 10.000, membuat layanan ini banyak diminati masyarakat.
Salah satu penyedia layanan, PT Vahana Bajaj Sukses, melalui perwakilannya yang enggan disebutkan namanya, mengemukakan, kehadiran bajaj modern ini memang masih dalam tahap awal pengenalan di Tenggarong.
Ia mengatakan, kendaraan tersebut memiliki keunggulan mampu menjangkau gang-gang sempit yang sulit dilalui kendaraan roda empat.
“Bajaj ini memberikan alternatif transportasi yang fleksibel dan nyaman bagi masyarakat,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Rencananya, layanan Maxride akan resmi diluncurkan pada Jumat (10/4/2026) di Jalan Akhmad Muksin, Kompleks SCW, Tenggarong.
Sementara itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Kutai Kartanegara (Kukar) menegaskan operasional angkutan tersebut belum mengantongi izin resmi.
Kepala Dishub Kukar, Ahmad Junaidi, menegaskan hingga kini belum ada pengajuan administrasi yang masuk ke pihaknya.
“Kami memang melihat ada aktivitas di lapangan, tetapi belum ada laporan atau permohonan izin yang diajukan,” katanya.
Ia menekankan setiap angkutan umum wajib memenuhi persyaratan administrasi dan uji kelayakan kendaraan sebelum beroperasi.
Hal ini penting untuk menjamin keselamatan pengguna jasa transportasi.
Menurut Junaidi, sebelumnya sempat ada pihak yang memperkenalkan konsep transportasi tersebut ke Dishub Kukar.
Namun, pembahasan ini belum berlanjut ke tahap perizinan maupun operasional.
“Masih sebatas pengenalan, belum ada tindak lanjut secara resmi,” ujarnya.
Dishub juga belum dapat memastikan pihak yang mengoperasikan bajaj yang kini sudah terlihat di lapangan, apakah merupakan inisiatif individu atau bagian dari perusahaan.
Kendati demikian, pemerintah daerah menyatakan terbuka terhadap inovasi di sektor transportasi.
Namun, seluruh layanan tetap harus mengikuti regulasi yang berlaku, termasuk pengaturan wilayah operasional agar tidak menimbulkan konflik dengan angkutan umum lain.
“Pada prinsipnya kami mendukung inovasi, tetapi harus tetap sesuai aturan dan memperhatikan aspek keselamatan,” tuturnya.
Untuk saat ini, Dishub Kukar masih memprioritaskan penguatan angkutan pedesaan dan perkotaan yang sudah berjalan.
Sedangjan pengembangan bajaj modern di Tenggarong belum masuk dalam kajian khusus pemerintah daerah. (Dri)