• Selasa, 21 April 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Perairan Danau Semayang.(Foto : Andri Wahyudi/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Aktivitas perdagangan ikan yang lesu di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai dirasakan para pelaku usaha perikanan.

Penurunan hasil tangkapan nelayan sejak beberapa tahun terakhir berdampak langsung pada menurunnya volume transaksi di tingkat tengkulak.

Jamal, salah seorang tengkulak ikan di wilayah tersebut, mengemukakan penurunan hasil tangkapan sudah terjadi sejak 2018 dan terus berlanjut hingga kini.

Ia memperkirakan penurunannya mencapai sekitar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan dulu, sekarang jauh sekali turunnya. Bisa sampai setengahnya,” ujarnya.

Sejak tahun 2000, Jamal menjalankan usaha dengan membeli ikan dari nelayan setempat untuk kemudian diolah menjadi ikan asin.

Sebagian kecil hasil tangkapan juga dijual dalam kondisi segar.

Menurutnya, sebagian besar hasil produksi selama ini dikirim ke luar daerah, khususnya ke Jakarta, sedangkan pasar lokal hanya menyerap dalam jumlah terbatas.

“Sebagian besar ke luar daerah, hampir semuanya ke Jakarta. Di sini hanya sedikit yang dijual,” tuturnya.

Ia mengenang sebelum penurunan terjadi, usahanya mampu berkembang pesat.

Dalam setahun, volume penjualan bisa mencapai 150 ton.

Bahkan saat musim panen, ia dapat mengumpulkan hingga 8 ton ikan per hari.

Namun, kini kondisinya berubah drastis.

Pada hari biasa, ia hanya mampu mengumpulkan ratusan kilogram ikan per hari.

Saat musim panenpun, jumlahnya tidak lagi sebanyak dulu.

“Sekarang di luar musim panen paling hanya 300 sampai 500 kilogram. Kalau musim panen paling sekitar 3 ton per hari,” katanya.

Penurunan ini juga berdampak pada berkurangnya aktivitas tenaga kerja yang sebelumnya terlibat dalam proses pengolahan ikan.

“Dulu banyak yang bekerja bantu bersihkan, jemur, sampai kirim. Sekarang jauh berkurang,” ucapnya.

Terkait penyebabnya, Jamal menduga ada beberapa faktor yang memengaruhi, mulai dari perubahan lingkungan hingga penggunaan alat tangkap yang semakin modern.

“Nelayan juga mengeluh soal alat tangkap sekarang. Mungkin itu juga berpengaruh, ditambah kondisi air yang berubah,” ujarnya.

Meskipun demikian, ia mengaku belum ada kepastian terkait faktor utama penyebab menurunnya populasi ikan di wilayah tersebut.

Sementara itu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, menyampaikan penurunan hasil tangkapan di wilayah hulu memang kerap terjadi dan dipengaruhi berbagai faktor, seperti cuaca dan kualitas perairan.

Ia menambahkan, pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan serta melakukan pendampingan kepada nelayan guna membantu mereka bertahan di tengah kondisi tersebut.

“Upaya pendampingan terus dilakukan, termasuk pemberian bantuan kepada nelayan yang terdampak,” ucapnya. (Dri)

Pasang Iklan
Top