
Kondisi lapangan bola di Desa Sebulu Modern. (Foto:Achmad Nizar/Kutairaya)
KUKAR, (KutaiRaya.com): Di sejumlah desa di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), ternyata masih banyak desa yang belum memiliki fasilitas olahraga yang memadai. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada perkembangan minat dan bakat generasi muda di desa.
Salah satu contohnya di Kecamatan Sebulu, tepatnya di Desa Sebulu Modern. Di desa ini, sarana olahraga masih sangat terbatas dan jauh dari kata layak.
Kepala Desa Sebulu Modern, Jumadin mengakui kondisi tersebut. Ia menyebutkan, untuk fasilitas olahraga yang tersedia saat ini hanya sebatas lapangan bola, sementara cabang olahraga lain masih minim.
"Iya, betul. Untuk kami sendiri masih minim. Seperti bulu tangkis dengan sepak takraw, cuma bola saja yang ada,"ujar Jumadin pada Kutairaya.com, Selasa (24/3/2026).
Menurutnya, ada tiga cabang olahraga yang menjadi prioritas di desa, seperti sepak bola, voli, dan bulu tangkis. Namun justru fasilitas bulu tangkis yang kondisinya paling memprihatinkan.
"Sepak bola utama, kedua voli, ketiga bulu tangkis. Yang ini bulu tangkis yang paling susah. Lapangannya sudah rentan, sudah mau hancur," jelasnya.
Ia menerangkan, untuk kondisi gedung bulu tangkis sudah sangat tidak layak digunakan. Atapnya mulai lepas, dindingnya lapuk, dan hanya bisa ditambal seadanya agar tetap bisa dipakai.
"Kalau gedung seperti bulu tangkis, hampir empat tahun. Atap sudah hampir lepas semua, dinding sudah mulai busuk. Ditambal-tambal saja," katanya.
"Sudah beberapa kali usulan ke dinas, ke dewan, bahkan sempat didisposisi ke kantor bupati, tapi gagal terus, belum ada yang disetujui," lanjutnya.
Kondisi ini tentu menjadi kendala, terutama saat cuaca hujan. Aktivitas olahraga sering terganggu akibat kebocoran hingga kondisi bangunan yang membahayakan.
"Kalau hujan pasti bocor. Apalagi kalau angin, atap bunyi-bunyi, seperti mau lepas. Itu yang jadi kendala," tambahnya.
"Kalau semangat pemuda, ya tetap semangat saja berolahraga, baik bola maupun voli," ujarnya.
Ia berharap, ada perhatian serius dari pemerintah daerah, terutama dalam mendukung pembangunan fasilitas olahraga di desa.
"Mudah-mudahan walaupun keadaan efisiensi, bisa satu dua lah disupport. Karena peminatnya banyak," harapnya.
"Kalau dana desa kita terbatas, tidak bisa apa-apa lagi. Sudah dikurangi hampir 70 persen," jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar, Dery Wardhana, membenarkan bahwa tidak semua desa di Kukar memiliki fasilitas olahraga yang memadai.
"Memang tidak semua desa memiliki sarana prasarana olahraga. Usulan seperti stadion mini, lapangan voli, dan bulu tangkis sering muncul dalam musrenbang," katanya.
Ia menjelaskan, pembangunan fasilitas olahraga dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
"Kalau penganggaran normal, kami upayakan bisa mengakomodir satu per satu. Tapi memang tidak bisa sekaligus semua," tuturnya.
Dispora juga mendorong desa untuk aktif menginventarisasi kebutuhan dan mempersiapkan lahan sebagai langkah awal pembangunan.
"Kalau lahannya ada, diratakan dulu. Bisa pakai dana desa atau CSR dari perusahaan setempat. Pelan-pelan dibangun," imbuhnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah desa, daerah, dan pihak swasta menjadi kunci dalam percepatan pembangunan fasilitas olahraga. (*Zar)