
Dosen Prodi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Mulawarman, Juni Tristanto Laksana Putra.(Foto: Dok. Juni Tristanto Laksana Putra)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Perkembangan teknologi Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) dinilai membawa perubahan besar terhadap dunia kerja modern.
Kondisi ini menuntut adanya peningkatan keterampilan atau reskilling Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang semakin cepat.
Dosen Program Studi Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, Juni Tristanto Laksana Putra, menjelaskan pemahaman mengenai perbedaan antara Artificial Intelligence (AI) dan Generative AI menjadi langkah awal dalam menghadapi transformasi digital saat ini.
Menurutnya, AI pada dasarnya merupakan teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan kognitif manusia, seperti mengenali pola, memproses data, hingga membuat prediksi.
Teknologi ini telah lama digunakan dalam berbagai sistem digital, misalnya pada algoritma rekomendasi film atau musik di platform digital serta sistem deteksi transaksi mencurigakan di sektor perbankan.
Sementara itu, Generative AI merupakan perkembangan terbaru yang tidak hanya menganalisis data, tetapi juga mampu menghasilkan konten baru, seperti teks, gambar, video, hingga kode program.
“Perbedaan mendasar antara AI konvensional dan Gen-AI terletak pada fungsinya. AI lebih banyak digunakan untuk analisis dan prediksi, sedangkan Gen-AI mampu menciptakan sesuatu yang baru,” kata Juni.
Ia mencontohkan dalam sektor pemasaran, AI dapat menganalisis perilaku konsumen dan memprediksi produk yang akan diminati.
Namun dengan Gen-AI, teknologi ini bisa membantu untuk membuat konsep iklan, menulis copywriting, hingga merancang visual kampanye pemasaran dalam waktu singkat.
Menurut Juni, gelombang teknologi Gen-AI kini telah mengubah proses produksi pengetahuan, pengambilan keputusan, hingga inovasi di berbagai organisasi.
Sehingga pertanyaan yang muncul saat ini bukan lagi apakah AI akan memengaruhi pekerjaan manusia, tetapi sejauh mana kesiapan SDM dalam menghadapi perubahan tersebut.
“Era Gen-AI menuntut satu hal yang tidak bisa ditawar, yaitu reskilling SDM secara masif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sepanjang sejarah, dunia kerja telah mengalami berbagai gelombang disrupsi teknologi, mulai dari revolusi industri, komputerisasi, hingga internet.
Namun, Gen-AI dinilai membawa perubahan yang lebih luas karena mulai menyentuh pekerjaan berbasis pengetahuan yang sebelumnya dianggap relatif aman dari otomatisasi.
Berdasarkan laporan McKinsey Global Institute tahun 2023, teknologi generative AI diperkirakan mampu menciptakan nilai ekonomi global antara 2,6 hingga 4,4 triliun dolar AS setiap tahun melalui peningkatan produktivitas di berbagai sektor industri.
Selain itu, sekitar 60 hingga 70 persen aktivitas pekerjaan saat ini berpotensi mengalami otomatisasi sebagian melalui teknologi Gen-AI.
“Jika revolusi industri menggantikan pekerjaan fisik, maka Gen-AI mulai memengaruhi pekerjaan berbasis pengetahuan, seperti pemasaran, teknologi informasi, hingga riset akademik,” tuturnya.
Kendati demikian, ia menilai AI tidak semata-mata menjadi ancaman bagi pekerjaan manusia.
Justru teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas pekerja yang mampu memanfaatkannya dengan baik.
Hasil survei PricewaterhouseCoopers (PwC) Global AI Jobs Barometer 2025 menunjukkan bahwa industri yang terdampak AI justru mengalami peningkatan produktivitas hingga 4 kali lebih cepat, sekaligus memberikan premi upah hingga 56 persen bagi pekerja yang memiliki keterampilan AI.
Di Indonesia, laporan Microsoft dan LinkedIn Work Trend Index 2024 juga mencatat bahwa sekitar 92 persen pekerja berbasis pengetahuan telah menggunakan generative AI dalam pekerjaan mereka.
Namun demikian, kesenjangan keterampilan masih menjadi tantangan utama.
Meskipun sebagian besar pekerja telah mengenal AI, hanya sebagian kecil yang menggunakan teknologi tersebut secara rutin dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Dalam konteks ini, Juni menilai reskilling menjadi agenda strategis yang harus dilakukan secara serius.
Ia menyebutkan setidaknya ada 3 kompetensi utama yang perlu dikembangkan.
Pertama adalah literasi Gen-AI dan digital, yakni pemahaman tentang cara kerja teknologi tersebut serta cara memanfaatkannya secara produktif.
Kedua, kemampuan analitis dan pemecahan masalah.
Meskipun AI mampu menghasilkan informasi, kemampuan manusia dalam menafsirkan dan mengambil keputusan tetap menjadi faktor penting.
Ketiga, penguatan soft skills, seperti kreativitas, empati, dan kemampuan kolaborasi yang justru semakin dibutuhkan di era teknologi.
Menurut Juni, Gen-AI seharusnya tidak dipandang sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai teknologi yang dapat memperkuat kemampuan manusia dalam bekerja.
“Gen-AI adalah multiplier of human capability. Pekerja yang mampu berkolaborasi dengan teknologi ini akan jauh lebih produktif dibandingkan mereka yang menolaknya,” katanya.
Ia menambahkann, masa depan dunia kerja kemungkinan besar bukanlah manusia digantikan oleh AI, tetapi manusia yang mampu menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak memanfaatkannya.
Maka itu, ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri dalam menyiapkan SDM yang siap menghadapi era Gen-AI.
Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan, antara lain integrasi literasi Gen-AI dalam kurikulum pendidikan tinggi, program reskilling nasional bagi tenaga kerja, kolaborasi pengembangan talenta digital, serta penguatan budaya pembelajaran sepanjang hayat.
“Pada akhirnya, masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh seberapa cepat manusia mampu belajar, beradaptasi, dan berkembang bersama teknologi tersebut,” ucapnya. (Dri)