• Selasa, 10 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih.(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat, sebanyak 62 kasus suspect campak, ditemukan di berbagai wilayah kota, meski hingga kini belum ada indikasi kejadian luar biasa (KLB).

Adanya dugaan 62 kasus suspect campak di Samarinda, tetapi Dinas Kesehatan memastikan kondisi tersebut belum mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB). Status kasus masih berupa dugaan karena sampel pasien, harus diperiksa di laboratorium rujukan di Kalimantan Selatan, untuk bisa memastikan diagnosis. Meskipun demikian, Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan melalui pemantauan fasilitas kesehatan, dan mengimbau masyarakat memastikan anak mendapatkan imunisasi guna mencegah potensi penyebaran penyakit.

Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih mengatakan, kasus yang tercatat masih berstatus dugaan dan belum terkonfirmasi sebagai campak.

Menurutnya, untuk memastikan diagnosis, sampel pasien harus diperiksa di laboratorium rujukan yang berada di Kalimantan Selatan.

“Pemeriksaannya harus dikirim ke laboratorium di Kalimantan Selatan. Jadi sampai sekarang masih status suspect, belum tentu positif campak,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Ismed juga menjelaskan, jika suatu wilayah, baru dapat dinyatakan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, apabila terjadi peningkatan kasus secara signifikan selama tiga tahun berturut-turut.

Ia menilai, kondisi di Samarinda masih relatif aman, terlebih cakupan imunisasi campak di kota tersebut tergolong tinggi.

“Imunisasi campak di Samarinda capaiannya bagus, sehingga sudah terbentuk kekebalan komunal,” katanya.

Ia mengibaratkan, kondisi tersebut seperti saat pandemi COVID-19, ketika sebagian besar masyarakat telah divaksin sehingga mampu menekan penyebaran penyakit.

Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap mengeluarkan surat edaran kepada fasilitas pelayanan kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan peningkatan kasus.

“Kami sudah mengeluarkan edaran kepada fasilitas kesehatan, agar melaporkan jika ada peningkatan kasus,” jelasnya.

Dinkes juga mengimbau masyarakat, terutama orang tua yang memiliki bayi dan balita, untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak sesuai jadwal.

“Kalau sudah waktunya vaksin, segera lakukan vaksinasi,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar kasus campak umumnya terjadi pada kelompok usia bayi hingga anak sekolah, yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi.

Sementara itu, hingga kini langkah penanganan masih bersifat antisipatif dan promotif, mengingat kasus yang tercatat masih dalam tahap dugaan.

“Untuk sementara kita masih memantau. Karena ini masih suspect, belum ada tindakan khusus seperti saat terjadi wabah,” pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top