
Masyarakat yang tengah mengantri melihat Gerhana Bulan.(Foto: Achmad Nizar/Kutairaya)
TENGGARONG,(KutaiRaya.com) : Planetarium Jagad Raya di Tenggarong sudah dipenuhi masyarakat yang ingin melihat Gerhana Bulan dengan mata telanjang. Peristiwa ini sudah terlihat sejak usai berbuka puasa pada Selasa (3/3/2026).
Masyarakat mulai berdatangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua memadati halaman planetarium.
Langit malam itu perlahan berubah. Cahaya bulan yang biasanya terang mulai meredup berwarna merah. Beberapa pengunjung mengabadikan momen dengan HPnya sementara yang lain sabar mengantre melihat melalui teropong yang disediakan.
Kabid Destinasi Wisata Dispar Kukar, M Ridha Fatrianta, mengaku terkejut melihat membludaknya pengunjung.
"Sebenarnya ini kami agak terkejut juga dengan antusias masyarakat. Mungkin dari kami menyediakan persiapan yang seadanya saja karena bertepatan di bulan puasa, tapi ternyata tadi antusiasme masyarakat sangat membeludak," ujarnya pada Kutairaya.com, di Tenggarong.
Ia bahkan sempat berbincang dengan para pengunjung, bahwa banyak yang datang dari luar Kecamatan Tenggarong.
"Tadi juga saya ada tanya ke beberapa masyarakat, ternyata ada yang datang dari Kecamatan Anggana, ada juga dari Samarinda Kota. Sebenarnya ini agenda rutin juga. Kalau ada peristiwa-peristiwa astronomi, petugas kami mengadakan acara seperti ini," ungkapnya.
"Rencananya akan ada kegiatan rutin edukasi. Jadi nanti bukan hanya mengenai gerhana, tapi juga akan diadakan edukasi tentang bulan purnama," tambahnya.
Untuk mendukung pengamatan, Planetarium Jagat Raya menyediakan dua unit teropong dengan spesifikasi berbeda.
"Di sini kita menyediakan dua teropong. Yang satu berjenis elektrik dan satu berjenis manual. Perbedaannya hanya di sistemnya saja, elektrik dan manual. Alat ini juga sudah ada sejak beberapa tahun lalu, sebelum Planetarium Jagat Raya dikelola oleh Dinas Pariwisata," paparnya.
Meski ramai, kegiatan malam itu berlangsung sederhana. Tidak ada rangkaian acara khusus seperti salat gerhana atau lainnya.
"Kegiatan hari ini cuma melihat gerhana melalui teropong. Tidak ada salat khusus atau semacamnya. Karena persiapannya seadanya dan bertepatan dengan bulan suci Ramadan, rundown-nya agak sulit. Tadi siang sebenarnya ada rencana edukasi astronomi, tapi waktunya tidak memungkinkan," ungkapnya.
"Kalau untuk tahun ini memang ada gerhana bulan. Kemungkinan ke depan, tahun depan akan ada gerhana matahari," tutupnya. (*Zar)