
Suasana pasar ramadan TAS.(Foto: Achmad Rizki/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pedagang Pasar Ramadan di Tangga Arung Square (TAS) mengeluhkan tingkat penjualan sepi.
Salah seorang pedagang kuliner, Vira mengatakan, mulai awal Ramadan hingga saat ini belum menunjukan tingkat penjualan yang signifikan.
Dalam sehari, omzet penjualan hanya mencapai sekitar Rp 200 ribu.
"Penjualan di Pasar Ramadan TAS ini tak bisa diharapkan. Banyak pedagang juga membuat pengunjung bingung, untuk membeli produk," kata Vira kepada Kutairaya, Selasa (3/2/2026).
Ia mengaku, sewa lapak selama Ramadan sekitar Rp 1,4 juta dan dibagi 2 pedagang.
Dengan besaran Rp 700 ribu dan pendapatan yang minim, ini dinilai tak sebanding dengan harga sewa.
"Kalau Pasar Ramadan ini ramai, biaya sewa Rp 700 ribu itu ringan. Tapi kalau pasar ini sepi pembeli, maka dinilai sangat berat bayar biaya sewa," ucapnya.
Menurutnya, sepi pembeli ini juga diduga perputaran ekonomi di Tenggarong lemah, sehingga mengakibatkan daya beli yang menurun.
"Mayoritas masyarakat kita ini pegawai, kalau pegawai belum mendapatkan uang, maka daya beli juga menurun," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Harianto.
Ia menuturkan, berjualan di Pasar Ramadan ini hanya berlangsung 3 hari.
Setelah melihat kondisi atau daya beli yang lemah di pasar itu, maka lapak yang telah disewa kemudian ditawarkan ke rekannya yang ingin berjualan.
"Jika sepi pembeli, dipastikan sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga lebih baik berjualan di luar Pasar Ramadan," ujar Harianto.
Menanggapi hal ini, Koordinator Multimedia Pengelola TAS, Idrus Jamaludin Eko menjelaskan, sepi pembeli ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya pemilihan lapak yang kurang strategis hingga kualitas dari produk kuliner itu sendiri.
"Kami tak pernah memaksakan pedagang untuk mengambil lapak di Pasar Ramadan. Tapi ini para pedagang sendiri yang memilih dan menentukan lapak yang ingin ditempati jualan," kata Idrus.
Ia menyebutkan, ada 3 pedagang yang telah mengadu ke pengelola terkait dengan tempat yang kurang strategis, sehingga mengakibatkan dagangannya kurang laku.
"Mereka meminta biaya sewa lapak untuk dikembalikan sebanyak Rp 700 ribu. Dalam satu tenda diisi 2 pedagang dengan harga sekitar Rp 1,4 juta," ujarnya.
Menurutnya, para pedagang juga harus bisa mengevaluasi terhadap kualitas produknya.
Meskipun di lokasi yang kurang strategis, tapi kalau produknya memiliki kualitas tinggi dan mampu bersaing, dia meyakini produk tersebut bakal laku keras. (Ary)