• Senin, 04 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pemorsian MBG di salah satu Dapur MBG Kota Samarinda.(Foto: Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Samarinda, Hariyono menegaskan, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda tetap berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP), menyusul adanya kasus dugaan keracunan di Penajam Paser Utara (PPU).

Munculnya dugaan kasus keracunan di daerah lain menimbulkan kekhawatiran publik terhadap standar keamanan program MBG, termasuk di Kota Samarinda. Program yang menyasar pelajar ini menuntut pengawasan ketat di setiap tahapan, mulai dari pengadaan bahan hingga distribusi. Tanpa kontrol yang disiplin dan evaluasi berkelanjutan, potensi gangguan keamanan pangan dapat berdampak luas serta memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.

Menurut Hariyono, potensi kejadian luar biasa (KLB) dalam keamanan pangan memiliki rantai panjang dan bisa terjadi di berbagai titik.

“Rantainya panjang. Bisa dari bahan baku, produksi, pemorsian, pengantaran, bahkan sampai di sekolahnya sendiri. Jadi harus diuji dulu sampelnya sebelum menyimpulkan,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Ia menjelaskan, aspek paling krusial dalam keamanan pangan adalah pengendalian suhu, mulai dari penyimpanan bahan baku hingga makanan siap didistribusikan.

“Keamanan pangan itu titik kritisnya ada di suhu. Dari bahan baku, penyimpanan, sampai distribusi harus dipantau betul,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa, Satuan Pelayanan Gizi (SPG) di Samarinda telah menerapkan quality control internal, termasuk penggunaan termometer, pengecekan tingkat kematangan, serta kewajiban penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas dapur.

Sanitasi dapur juga diklaim dilakukan setiap hari. Selain itu, para penjamah makanan telah mengikuti pelatihan keamanan pangan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan.

“Kami tekankan jangan sampai SOP terlewat sedikit pun. Kalau SOP dijaga, insyaallah aman,” tegasnya.

Memasuki bulan Ramadan, skema MBG di Samarinda mengalami penyesuaian. Jika pada bulan biasa makanan diberikan dalam bentuk siap santap menggunakan ompreng, maka selama Ramadan paket diberikan dalam bentuk kering.

Isi paket Ramadan antara lain susu kemasan, buah berkulit, kacang-kacangan sebagai protein nabati, roti sebagai sumber karbohidrat, serta protein hewani seperti telur rebus atau abon.

“Kalau Ramadan kita pakai paket kering. Tetap diberikan di sekolah sebelum siswa pulang, untuk dikonsumsi saat berbuka puasa,” jelasnya.

Distribusi tetap dilakukan setiap hari sekolah, Senin hingga Jumat. Sementara jatah hari Sabtu digabung pada hari Jumat, sebagaimana pola operasional reguler.

Dalam sehari, siswa menerima satu paket untuk satu kali makan. Hariyono berharap siswa penerima manfaat tetap menjalankan ibadah puasa dengan lancar dan memanfaatkan paket MBG dengan baik.

“Mudah-mudahan paket yang diberikan tidak mubazir dan benar-benar dikonsumsi. Itu sudah dihitung sesuai takaran gizi untuk pertumbuhan mereka,” pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top