
Walikota Samarinda, Andi Harun.(Foto: Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA, (KutaiRaya.Com) : Wali Kota Samarinda, Andi Harun meresmikan lima Instalasi Pengolahan Air (IPA) secara serentak yang dipusatkan di kawasan Berambai, Samarinda Utara, sebagai bagian dari upaya perluasan layanan air bersih dan pemerataan infrastruktur dasar di Kota Tepian, Rabu (11/2/2026).
Peresmian lima IPA ini menjadi langkah strategis, menjawab persoalan klasik layanan air bersih di Samarinda yang selama ini belum merata, terutama di kawasan pinggiran. Keterbatasan kapasitas produksi, jaringan distribusi yang belum optimal, serta kendala pembiayaan membuat sebagian wilayah masih kesulitan mengakses air bersih secara layak. Kondisi tersebut mendorong pemerintah kota, mempercepat pembangunan infrastruktur air minum dengan berbagai skema pendanaan, agar pelayanan dasar ini dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat.
Lima instalasi yang diresmikan meliputi IPA Berambai, IPA Tirta Kencana 7, IPA Bendang 2, IPA Gunung Lingai 3, serta IPA Loa Kumbar yang selama ini dinantikan warga di wilayah yang belum terjangkau layanan optimal.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa, penyediaan air bersih bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari pelayanan dasar yang menjadi kewajiban pemerintah dan harus diwujudkan secara bertahap, serta merata hingga ke wilayah yang selama ini belum terjangkau.
“Air bersih itu kebutuhan dasar. Itu bagian dari pelayanan dasar pemerintah. Maka kita tidak boleh berhenti berusaha agar pelayanan air bersih ini bisa dirasakan seluruh masyarakat Kota Samarinda,” tegasnya.
Ia mengakui, jika pembangunan infrastruktur air minum, tidak selalu berjalan mulus. Namun menurutnya, pemerintah tidak boleh terjebak dalam kebuntuan persoalan lama.
IPA Berambai berkapasitas 30 liter air per detik, dibangun menggunakan APBD murni Kota Samarinda. IPA Tirta Kencana 7 berkapasitas 50 liter air per detik, juga bersumber dari APBD.
Sementara IPA Bendang 2 berkapasitas 200 liter air per detik, dibangun melalui terobosan bisnis Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Kencana tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
“Soal Bendang 2 ini, dulu kita tersandera perjanjian lama. Saya bilang waktu itu, kita tidak boleh stuck. Harus cari jalan keluar. Saya perintahkan jalan terus, dan alhamdulillah sekarang sudah bisa dioperasikan,” ujarnya.
Adapun, IPA Gunung Lingai 3 memiliki kapasitas 100 liter air per detik. Sedangkan, IPA Loa Kumbar berkapasitas 2,5 liter air per detik, yang diperuntukkan bagi kawasan yang sebelumnya belum tersentuh layanan air bersih.
Ia mengaku sempat terkejut saat pertama kali mengunjungi Loa Kumbar.
“Begitu saya datang ke sana, saya bilang, masyaallah, kok masih ada daerah seperti ini di Samarinda. Sekolah tidak punya air, akses terbatas. Seolah tidak pernah tersentuh. Sekarang alhamdulillah sudah ada air bersih meskipun bertahap,” katanya.
Ia menekankan, keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam pembangunan infrastruktur kota. Karena itu, pemerintah harus cermat menentukan prioritas.
“Pembangunan kebutuhan besar, tapi kemampuan pembiayaan terbatas. Maka kita harus bertahap dan mencari skema pembiayaan yang kreatif, bisa APBD, bisa kerja sama bisnis, bisa pemanfaatan aset,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung, perihal rencana perbaikan akses jalan menuju Berambai pada 2027. Namun ia meminta dukungan masyarakat, agar tidak mempersulit proses pelebaran jalan.
“Kalau nanti Pekerjaan Umum (PU) butuh setengah meter atau satu meter untuk perbaikan jalan, jangan dijual lagi lah. Sudah mau kita bantu, jangan dipersulit. Kalau masih mau dijual, ya tidak saya perbaiki jalannya,” ujarnya disambut tawa warga.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga dukungan masyarakat dalam menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun.
“Kita ini kalau bangun infrastruktur jangan hanya bangganya saat diresmikan saja. Setelah itu dijaga bersama. Jangan berpikir semua tanggung jawab, ada di pemerintah. Kalau kita jaga bersama, manfaatnya bisa panjang umurnya,” tandasnya. (*Abi)