
Atlet Podsi Kukar Tengah Berlatih di Pal 5 Sekretariat PODSI Kukar.(Foto: Dok.PODSI Kukar)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 yang akan digelar di Kabupaten Paser, masih banyak cabang olahraga (cabor) di Kutai Kartanegara yang menghadapi persoalan serius terkait sarana dan prasarana (sarpras).
Kondisi ini membuat sejumlah cabor harus memutar otak dan memaksimalkan fasilitas yang ada demi menjaga persiapan atlet tetap berjalan.
Salah satu cabor yang merasakan langsung keterbatasan tersebut, yakni Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (Podsi) Kukar. Minimnya sarpras, baik untuk latihan maupun pertandingan, menjadi tantangan besar bagi atlet dan pelatih dalam mempersiapkan diri menghadapi Porprov Kaltim yang akan digelar di Paser.
Kabid Binpres Podsi Kukar, Junaidi menuturkan, untuk sarpras yang dimiliki saat ini sejujurnya hanya layak digunakan untuk latihan, itupun belum memenuhi standar resmi pertandingan.
"Kalau untuk latihan masih bisa dipakai, meskipun tidak standar. Tapi kalau untuk tanding resmi, itu tidak bisa. Ada ukuran dan berat tertentu, baik perahu maupun dayung, yang sudah ditetapkan federasi," ujar Junaidi pada Kutairaya.com, Senin (9/2/2026).
Ia mencontohkan, pada nomor K1, berat perahu seharusnya berada di kisaran 12 hingga 18 kilogram. Jika beratnya melebihi standar, misalnya mencapai 20 kilogram, maka akan merugikan atlet karena perahu menjadi lebih berat di air.
"Kalau sudah tidak sesuai standar, biasanya tidak boleh dipakai di pertandingan resmi," tambahnya.
Kondisi sarpras yang kurang memadai ini memaksa Podsi Kukar untuk menggunakan sistem bergiliran dalam latihan. Dengan jumlah atlet yang cukup banyak, tidak semua bisa turun ke air secara bersamaan.
"Akhirnya kita atur jadwal. Ada yang latihan pagi, siang, sore, bergantian. Karena memang perahunya terbatas," ucapnya.
Tak hanya itu, beberapa perahu yang digunakan bahkan harus ditambal akibat kerusakan. Perahu lokal berbahan fiberglass yang digunakan dinilai cukup berat, namun memiliki ketahanan yang rendah karena bahannya tipis.
"Kalau sudah sering dipakai, bisa jebol atau rusak. Terpaksa ditambal pakai dempul. Ini jelas mengurangi kenyamanan dan keamanan atlet," imbuhnya.
Sementara itu, perahu berbahan karbon yang dimiliki Podsi Kukar merupakan bantuan lama, terakhir dari tahun 2006. Meski masih digunakan, kondisinya sebenarnya sudah tidak layak.
"Karbon itu ada ukurannya, panjangnya, beratnya, sudah diatur oleh ICF (International Canoe Federation). Tapi karena keterbatasan, ya kita layak-layakin saja," katanya.
Masalah tidak berhenti pada sarpras latihan. Peralatan tanding untuk Porprov Kaltim juga menjadi persoalan.
Menurutnya, peralatan tanding seperti perahu dan dayung tidak bisa ditawar karena wajib memenuhi standar.
"Kalau baju mungkin bisa disiasati, tapi kalau perahu dan dayung tidak bisa. Itu wajib standar. Kalau tidak, atlet bisa tidak diizinkan bertanding," tegasnya.
Pihaknya juga tak tinggal diam, Podsi Kukar telah berupaya mengajukan kebutuhan sarpras melalui KONI dan Dispora. Namun, keterbatasan anggaran membuat pengadaan peralatan belum maksimal.
Dengan segala keterbatasan, mereka tetap berusaha membuktikan prestasinya. Pada ajang BK Porprov Kaltim, meski dengan dukungan minim, Podsi Kukar mampu meraih 5 emas, 4 perak, dan 9 perunggu.
"Ini menunjukkan bahwa dengan bantuan minim saja kami bisa bersaing. Apalagi kalau dukungan sarprasnya maksimal, itupun sarprasnya kita meminjam kepada Provinsi." tuturnya.
Ia berharap, pemerintah daerah dapat lebih mempertimbangkan cabor yang benar-benar menunjukkan prestasi, meski dengan keterbatasan dukungan.
"Harapan kami sederhana, supaya adik-adik atlet ini bisa mencapai prestasi yang diinginkan. Kalau target medali ditanya, tentu harus seimbang dengan dukungan alat. Prestasi itu ada ukurannya," pungkasnya. (*zar)