
Potret teknik seduh kopi manual atau manual brew.(Foto:Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Tren kopi manual brew merupakan bagian dari teknik seduh kopi yang bisa dilakukan secara mandiri. Mulai dari Vietnam drip, V60, tubruk hingga teknik moka-pot, masing-masing metode penyeduhan memiliki karakter rasa dan teknik tersendiri yang kini bisa dilakukan secara mandiri oleh penikmat kopi.
Teknik seduh kopi manual brew dapat menjadi alternatif penikmat kopi yang ingin merasakan sensasi meracik kopi secara mandiri. Meski begitu, masih banyak penikmat kopi yang belum memahami perbedaan karakter tiap metode seduh. Ketidaktepatan teknik, takaran, atau suhu air kerap membuat rasa kopi tidak keluar maksimal, sehingga kualitas sajian menjadi tidak konsisten meskipun menggunakan biji kopi yang baik.
Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam meracik secangkir kopi sendiri di antaranya konsistensi takaran, tingkat gilingan, hingga suhu air menjadi kunci utama menghasilkan cita rasa kopi yang optimal.
Untuk metode Vietnam drip, kopi biasanya diseduh dengan takaran 10-15 gram (g) bubuk kopi atau biji kopi (jeans) , menggunakan air panas sebanyak 120 hingga 180 mililiter (ml). Tingkat gilingan berada di kategori medium (20-25 klik pada grinder manual), dengan suhu air ideal antara 90 hingga 95 derajat celsius.
Proses diawali dengan penuangan sekitar 20 ml air untuk blooming (pelepasan Co2 dalam bubuk kopi) selama 20 detik, lalu dilanjutkan hingga batas air yang ditentukan. Metode ini kerap disajikan dengan tambahan 25 ml susu, menghasilkan rasa kopi yang bold namun tetap creamy.
Sementara itu, metode V60 masih menjadi favorit pencinta kopi filter. Penyeduhan dilakukan dengan perbandingan 15 g kopi dan 180-225 ml air, atau rasio 1:12 hingga 1:15. Bubuk kopi digiling medium dengan tingkat 3 hingga 4, dan diseduh menggunakan air bersuhu 85 hingga 95 derajat celsius.
Proses penuangan dilakukan bertahap, dimulai dengan 40–60 ml air untuk blooming selama 45 detik, lalu dilanjutkan beberapa tahap hingga total waktu seduh mencapai sekitar tiga menit.
Metode klasik tubruk juga masih bertahan di tengah gempuran kopi modern. Dengan takaran 10-15 g kopi dan 150 hingga 180 ml air panas bersuhu 85 hingga 90 derajat celsius, bubuk kopi diseduh langsung di dalam gelas.
Air dituangkan perlahan dengan arah memutar, lalu didiamkan selama 30 detik sebelum dilakukan proses “break” atau menggeser ampas kopi di permukaan. Setelah itu, kopi siap dinikmati usai menunggu sekitar dua menit.
Adapun untuk penggemar kopi dengan karakter lebih pekat, moka pot menjadi pilihan terbaik. Metode ini menggunakan 15-18 g kopi dengan perbandingan air 1:6, atau sekitar 90-108 ml air. Air dipanaskan terlebih dahulu hingga 85–90 derajat celsius, lalu moka-pot dipanaskan dengan api kecil hingga ekstraksi pertama keluar, sebelum kompor dimatikan dan dibiarkan hingga ekstraksi selesai.
Selain kopi, minuman non-kopi juga tak kalah diminati, terutama di kalangan anak muda. Racikan umumnya menggunakan 25g bubuk minuman yang dilarutkan dengan 40 ml air panas, kemudian dicampur 100 ml susu cair dan 100g es batu. Tambahan topping biasanya disajikan di bagian atas untuk menambah tampilan dan cita rasa.
Tak hanya itu, gula aren cair dengan perbandingan 1:1 juga menjadi pemanis favorit yang banyak digunakan di kedai kopi Samarinda, karena memberikan rasa manis alami tanpa menghilangkan karakter minuman.
Literasi kopi mungkin dapat berkembang seiring kebutuhan dan kreativitas masyarakat, terutama generasi muda yang menggeluti dunia citarasa. Meski demikian, kebutuhan citarasa kopi, perlu memperhatikan karakter lidah penikmat di daerah tersebut. (*Abi)