• Sabtu, 05 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Teluk Lerong Space (TLS) Kota Samarinda.(Foto : Abi/KutaiRaya)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Tingginya ketertarikan masyarakat terhadap Teluk Lerong Space (TLS), di kawasan Teras Samarinda mendapat perhatian serius dari Perusahaan Daerah (Perusda) Varia Niaga. Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, persoalan parkir menjadi salah satu fokus evaluasi ke depan.

Lonjakan jumlah pengunjung Teluk Lerong Space, membawa dampak lanjutan terhadap kapasitas dan pola parkir di sekitar kawasan Teras Samarinda. Kondisi ini memunculkan potensi kemacetan, penggunaan ruang parkir yang tidak tertib, serta kekhawatiran munculnya kembali parkir liar apabila tidak diantisipasi sejak dini. Karena itu, pengelolaan parkir menjadi isu krusial agar fungsi kawasan publik tetap nyaman, tertib, dan tidak menimbulkan masalah baru bagi lalu lintas kota.

Direktur Utama Perusda Varia Niaga, Syamsuddin Hamade mengakui, kawasan tersebut kini hampir selalu ramai, terutama pada sore hingga malam hari. Namun, ia menegaskan, kehadiran Teluk Lerong Space sejak awal memang dirancang sebagai solusi penataan kawasan sekaligus penertiban parkir liar.

“Hadirnya Teluk Lerong Space ini sebenarnya untuk mengurusi persoalan jukir liar. Sebelum ada TLS, orang parkir di luar, belanjanya di luar, makanannya dibawa ke Teras Samarinda, sampahnya dibuang di sana. Kita yang pusing, parkiran kita sepi tapi lingkungannya kotor,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa, kondisi tersebut mendorong Perusda Varia Niaga untuk menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menarik agar masyarakat bersedia memarkir kendaraan secara tertib.

“Saya keliling, saya lihat sendiri, ternyata kalau parkiran itu tidak ada tempat menarik, orang juga malas parkir. Apalagi di Samarinda. Dari situ kita mulai dengan konsep food truck,” katanya.

Konsep tersebut ternyata mendapat respons positif dari masyarakat. Namun, sejak awal pihaknya sudah menghitung kapasitas dan okupansi kawasan agar tetap terkendali.

“Space yang kita ambil itu tidak banyak. Kita hitung betul okupansinya. Kalau tempat duduk penuh, parkiran penuh. Kalau tempat duduk sedikit, parkiran juga tidak penuh. Itu sudah kita hitung dari awal,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini pengunjung Teluk Lerong Space datang bukan hanya untuk kuliner, tetapi juga menikmati suasana alam dan ruang publik yang nyaman. Fenomena “healing” menjadi daya tarik tersendiri.

“Sekarang orang datang ke Teras Samarinda itu ingin healing. Sore datang lihat sunset, habis magrib pulang. Nanti datang lagi gelombang kedua, setelah magrib mau lihat jembatan. Itu bukan cuma orang Samarinda, dari Kukar, Balikpapan juga banyak,” ungkapnya.

Terkait isu penambahan food truck, ia menegaskan, jumlahnya tetap empat unit dan tidak bertambah. Area lain di sekitar TLS, justru sedang disiapkan untuk wahana baru.

“Food truck tidak nambah. Yang di sebelah sana itu rencana kita bikin Sky Air, permainan baru. Ini untuk menambah fungsi hiburan, tapi tetap dijaga sesuai arahan Pak Wali Kota,” katanya.

Ia menekankan seluruh UMKM yang terlibat di Teluk Lerong Space, telah melalui proses kurasi ketat. Tujuannya agar UMKM benar-benar naik kelas dan memiliki kualitas produk yang baik.

“Syaratnya jelas. Produknya harus bagus, higienis, dan punya komunitas. Burger, kopi, mie itu punya komunitas sendiri. Begitu masuk, langsung ramai. Itu yang kita mau,” ujarnya.

Ia juga menyinggung soal kontribusi Teluk Lerong Space terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia mengakui pada awal pengelolaan, Perusda Varia Niaga masih mengalami kerugian karena keterbatasan kewenangan dan belum optimalnya aktivitas bisnis.

“Di awal kita rugi, itu jujur saja. Kita baru bisa menjalankan bisnis setelah Agustus 2025. Sebelumnya cuma parkir, itu pun sepi,” katanya.

Untuk tahun 2025, kontribusi PAD dari TLS belum signifikan karena masih menutup kerugian awal. Namun, ia optimis akumulasi pendapatan akan terlihat pada 2026.

“Kalau dari TLS sendiri, kita akumulasinya di 2026. Tapi secara overall, Varia Niaga itu untung. Parkir langsung setor 10 persen, itu langsung. Yang lain menyusul setelah kita benar-benar untung,” jelasnya.

Ke depannya, Perusda Varia Niaga akan menyiapkan sejumlah inovasi untuk memperkuat daya tarik kawasan Teras Samarinda. Mulai dari wahana jet ski keluarga, pemanfaatan teknologi robotik untuk kebersihan, hingga rencana pertunjukan drone.

“Kita rencana ada jet ski untuk family, bukan sport. Terus lantai nanti dibersihkan pakai robot. Kita juga targetkan ada drone show tahun ini. Minimal tiga fasilitas baru,” bebernya.

Ia menambahkan, pengembangan tersebut dilakukan agar Teras Samarinda tetap relevan, modern, dan mampu bersaing sebagai ruang publik unggulan di Kota Tepian.

“Teras ini harus fungsional, menghibur, tapi juga tertib dan bersih. Fenomena teras sudah ada di mana-mana, jadi kita harus terus berinovasi,” tandasnya. (*Abi)

Pasang Iklan
Top