• Rabu, 04 Februari 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kunjungan Kerja CECEP/CNEPG dan Magic Crystal Indo di Kukar.(Andri wahyudi/kutairaya)


TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memasuki tahap pengkajian.

Investor asal Tiongkok, China Energy Conservation and Environmental Protection Group Co., Ltd. (CECEP/CNEPG) bersama Magic Crystal Indo melakukan kunjungan kerja ke Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar), Selasa (3/2/2026).

Kunjungan yang berlangsung di Ruang Eksekutif Kantor Bupati Kukar tersebut merupakan bagian dari penyusunan studi kelayakan rencana pembangunan PLTSA yang melibatkan 3 wilayah, yakni Samarinda, Balikpapan, dan Kukar.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kukar, Ahyani Fadianur Diani mengatakan, proyek ini berpotensi menghadirkan investasi besar ke Kaltim dengan nilai mencapai sekitar 300 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp 4,5 triliun.

"“Nilai investasinya cukup besar. Jika ini terealisasi, tentu akan berdampak positif bagi daerah, baik dari sisi pengelolaan sampah maupun ketersediaan energi listrik," ujarnya.

Menurut Ahyani, kapasitas pengolahan sampah pada PLTSA tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1.000 ton per hari.

Kukar sendiri diproyeksikan mampu menyuplai sekitar 300 ton sampah per hari untuk mendukung operasional fasilitas tersebut.

"Karena kapasitasnya besar, satu daerah saja tidak cukup. Makanya kerja sama lintas daerah ini menjadi kunci," tuturnya.

Lokasi pembangunan PLTSA masih dalam tahap kajian, dengan salah satu titik yang dipertimbangkan berada di Kilometer 37 wilayah Samboja.

Lokasi tersebut dinilai strategis karena berada di tengah-tengah 3 daerah penyuplai sampah.

"Sekarang masih tahap feasibility study (studi kelayakan). Kita lihat dulu hasil kajiannya, apakah lokasi dan skema yang direncanakan ini benar-benar layak," katanya.

Ia menambahkan, listrik yang dihasilkan dari PLTSA nantinya direncanakan akan disalurkan melalui kerja sama dengan PLN, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah Kaltim.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Slamet Hadiraharjo, menyatakan dukungannya terhadap rencana pengolahan sampah menjadi energi tersebut.

Namun ia mengingatkan agar aspek teknis dan ekonomi, khususnya terkait transportasi sampah benar-benar diperhitungkan.

"Wilayah Kukar sangat luas. Kalau jarak pengangkutan terlalu jauh, biaya operasionalnya bisa sangat tinggi," ujarnya.

Slamet menjelaskan, timbulan sampah terbesar di Kukar berasal dari Tenggarong dengan kisaran 100 ton per hari.

Namun jarak ke lokasi yang direncanakan di Samboja mencapai sekitar 100 kilometer, melebihi batas ideal yang ditetapkan investor.

"Karena itu, perlu kajian matang agar proyek ini benar-benar efisien dan tidak membebani daerah," ucapnya. (dri)



Pasang Iklan
Top